Hanya 12 Persen Warga Paham Tangani Henti Jantung

  • 06 Jun 2026 22:18 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda- Kemampuan masyarakat Indonesia dalam memberikan pertolongan pertama pada kasus henti jantung masih tergolong rendah. Kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat henti jantung dapat terjadi kapan saja dan membutuhkan penanganan cepat dalam hitungan menit untuk menyelamatkan nyawa.

Fakta tersebut disampaikan dokter spesialis jantung Dedy Pratama saat menjadi narasumber dalam Seminar dan Workshop TBM Azygos Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman bertema PULSE: Preparing Urgent Life Support Education di Samarinda, Sabtu, 6 Juni 2026. Kegiatan tersebut mengangkat edukasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan strategi pencegahan penyakit kardiovaskular.

Dalam paparannya, Dedy mengungkapkan tingkat kemampuan masyarakat Indonesia dalam menghadapi kegawatdaruratan jantung masih jauh tertinggal dibanding sejumlah negara lain. Data yang dipaparkannya menunjukkan hanya sekitar 12 persen masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman dan kemampuan untuk melakukan tindakan awal pada kasus henti jantung.

Angka tersebut jauh berada di bawah negara-negara maju seperti Australia, Amerika Utara, maupun sejumlah negara di Eropa yang tingkat literasi dan kemampuan bantuan hidup dasarnya sudah jauh lebih baik.

“Indonesia itu hanya 12 persen yang bisa menanggulangi kegawatdaruratan jantung. Ini menjadi tantangan besar karena kejadian henti jantung bisa terjadi di mana saja dan kapan saja,” ujarnya.

Menurut Dedy, rendahnya kemampuan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama berpotensi meningkatkan angka kematian akibat henti jantung. Padahal, korban yang mengalami henti jantung memiliki peluang lebih besar untuk selamat apabila mendapatkan bantuan awal sebelum petugas medis tiba di lokasi.

Ia menjelaskan banyak masyarakat masih ragu atau takut memberikan pertolongan saat menemukan korban tidak sadarkan diri. Sebagian memilih menunggu petugas kesehatan karena khawatir melakukan kesalahan. Kondisi tersebut sering kali membuat kesempatan emas penyelamatan korban terlewat.

Padahal, dalam kasus henti jantung, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Semakin cepat tindakan bantuan hidup dasar dilakukan, semakin besar peluang korban untuk bertahan hidup dan mengurangi risiko kerusakan organ vital akibat kekurangan oksigen.

Dedy menuturkan salah satu keterampilan dasar yang penting diketahui masyarakat adalah resusitasi jantung paru (RJP). Kemampuan tersebut tidak hanya diperlukan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat umum karena mereka sering kali menjadi orang pertama yang berada di lokasi kejadian.

“Kalau terjadi henti jantung di lingkungan sekitar, keluarga, teman, atau masyarakat yang berada di tempat kejadian adalah penolong pertama. Karena itu pengetahuan bantuan hidup dasar menjadi sangat penting,” katanya.

Ia menambahkan masih banyak kesalahpahaman dalam penanganan korban kondisi darurat yang beredar di masyarakat. Beberapa tindakan yang dilakukan secara turun-temurun belum tentu sesuai dengan prinsip medis dan justru dapat membahayakan korban.

Karena itu, edukasi mengenai bantuan hidup dasar perlu terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang memahami cara mengenali tanda henti jantung, melakukan penilaian awal, hingga memberikan pertolongan sesuai prosedur yang benar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....