TBM Azygos UNMUL Edukasi Warga Hadapi Henti Jantung Mendadak
- 06 Jun 2026 10:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Kesadaran masyarakat untuk memberikan pertolongan pertama saat menghadapi kondisi darurat medis dinilai masih perlu ditingkatkan. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Bantuan Medis (TBM) Azygos Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman menggelar Seminar dan Workshop TBM Azygos 2026 bertema "PULSE: Preparing Urgent Life Support Education" di Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Samarinda, Sabtu 6 Juni 2026.
Kegiatan tahunan ini mengangkat materi bantuan hidup dasar dan strategi pencegahan penyakit kardiovaskular. Tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa kesehatan, seminar dan workshop tersebut juga membuka ruang belajar bagi masyarakat umum untuk memahami cara menghadapi situasi kegawatdaruratan yang dapat terjadi kapan saja.
Ketua Panitia Seminar dan Workshop TBM Azygos 2026, Agnes Graciella Octavia, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengetahuan sekaligus pengalaman praktik kepada peserta mengenai bantuan hidup dasar serta penanganan awal pada kondisi darurat medis.
Menurutnya, tema PULSE dipilih karena penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan di masyarakat dan berkaitan erat dengan kondisi henti jantung yang memerlukan tindakan cepat.
“Melalui kegiatan ini kami memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit kardiovaskular, mulai dari tanda-tanda, faktor risiko, hingga upaya pencegahannya. Selain itu peserta juga mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar seperti resusitasi jantung paru atau RJP dan penanganan kegawatdaruratan lainnya,” ujarnya kepada rri.co.id.
Agnes menjelaskan, kemampuan melakukan bantuan hidup dasar menjadi keterampilan penting yang seharusnya tidak hanya dimiliki tenaga kesehatan. Dalam banyak kasus, tindakan pertama yang diberikan oleh orang terdekat sebelum petugas medis datang dapat menjadi penentu keselamatan korban.
Karena itu, seminar dan workshop yang diselenggarakan TBM Azygos tidak hanya berfokus pada penyampaian teori, tetapi juga praktik langsung agar peserta memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang mengalami kondisi darurat.
Ia mengungkapkan, tingkat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap bantuan hidup dasar masih tergolong rendah. Berdasarkan materi yang disampaikan narasumber dalam kegiatan tersebut, hanya sebagian kecil masyarakat yang memahami cara menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis secara tepat.
“Data yang disampaikan pemateri menunjukkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat seperti henti jantung masih sangat terbatas. Inilah yang menjadi alasan mengapa edukasi bantuan hidup dasar perlu terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan tersebut,” katanya.
Bagi TBM Azygos, kegiatan ini tidak hanya menjadi program tahunan organisasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Lebih dari itu, seminar dan workshop menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli dan tanggap darurat di tengah masyarakat.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, TBM Azygos berharap semakin banyak warga yang mampu mengenali tanda-tanda kondisi kritis, melakukan pertolongan pertama secara tepat, serta menjadi bagian dari rantai penyelamatan nyawa sebelum korban mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....