Dopamin dan Pola Kecanduan: Mengapa Konten Dewasa Bisa Menjerat Remaja
- 21 Mei 2026 11:48 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Teknologi di masa kini semakin canggih. Segala hal dapat diakses dengan mudah dan gampang tanpa perlu menunggu lama. Namun, berbeda hal ketika seseorang menggunakan akses tersebut untuk hal yang dapat merugikan diri sendiri, contohnya mengakses konten dewasa yang hanya untuk kesenangan sesaat.
Psikolog sekaligus Ketua Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia (IPK HIMPSI) Kalimantan Timur (Kaltim), Ayunda Ramadhani menjelaskan mengapa seseorang dapat kecanduan akan hal tersebut. “Otak kita punya sistem yang ketika kita konsumsi sesuatu dapat menghasilkan hormon dopamin,” ucapnya.
Dopamin adalah senyawa kimia (neurotransmitter) alami di otak yang berfungsi sebagai pembawa pesan antar sel saraf yang dikenal luas sebagai “hormon kebahagiaan”. Dopamin memegang peranan krusial dalam memotivasi perilaku, mengatur suasana hati, dan memicu sensasi rasa senang saat seseorang mencapai sebuah target.
“Dalam konteks pornografi, dopamin yang keluar akhirnya membanjiri. Sehingga rasa senang dan instan didapat berlebihan, kemudian ada sensasi ingin mengulang kembali," ucapnya dikutip Kamis, 21 Mei 2026.
| Baca juga: MSG Berlebih Bisa Picu Obesitas |
Ia menambahkan, ketika seseorang mengulang konten tersebut terus menerus dapat mengarah ke arah kompulsif atau kecanduan. Polanya diawali dengan iseng melihat. “Awalnya melihat, namun lama-lama menjadi suatu kebiasaan dan otak menganggap itu mengakses konten pornografi) adalah menyenangkan,” katanya.
Dalam kesempatan menghadiri dialog Tonight Corner edisi psikolog yang disiarkan di RRI Pro 2 Samarinda, ia meneruskan bahwa ketika seseorang penasaran dengan hal-hal yang berbau seksual adalah normal dan wajar. “Secara manusiawi sangat wajar. Itu insting manusia, apalagi di usia remaja dan dewasa awal saat tumbuh kembang,” ucapnya.
Rasa penasaran seperti ingin tahu apalagi di kalangan remaja yang sedang tinggi-tingginya pubertas, seperti hormon pubertas merupakan hal wajar. Namun, ia mengingatkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika muncul sensasi yang diulang secara berkelanjutan.
“Jika diulang terus dapat menimbulkan ketagihan dan berakibat pada sulitnya seseorang mengendalikan dorongan, dapat menimbulkan masalah atau risiko nantinya,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....