Waspada Preeklamsia Lawan Mitos dan Bahaya bagi Ibu Hamil

  • 01 Mei 2026 12:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Tingginya angka kasus preeklamsia di masyarakat sering kali diperparah oleh kurangnya literasi kesehatan dan kuatnya pengaruh mitos di lingkungan sekitar. Banyak ibu hamil yang lebih memilih mendengarkan saran non-medis dari tetangga dibandingkan berkonsultasi dengan dokter. Fenomena sosial ini menjadi tantangan besar bagi para praktisi kesehatan seperti dr. Steven Thes, dalam menekan angka kematian ibu di Samarinda.

dr. Steven Thes mengungkapkan keprihatinannya terhadap pola pikir masyarakat yang menganggap remeh gejala-gejala awal preeklamsia. Gejala seperti kaki bengkak atau nyeri ulu hati sering kali dianggap sebagai gangguan kehamilan biasa. Padahal, tanpa pemeriksaan medis yang akurat, gejala tersebut bisa menjadi tanda awal terjadinya keracunan kehamilan yang mematikan.

"Mitos di masyarakat kita ini kan masih terlalu kuat. Kadang-kadang mereka itu seakan-akan lebih percaya tetangganya dibandingkan kita yang belajar kesehatan. Nanti saja, nanti saja, nah 'nanti saja' ini yang bahaya karena begitu ketahuan sudah terlambat," ujar dr. Steven Thes, dokter spesialis dari RS Dirgahayu Samarinda tersebut dikutip pada Kamis, 23 April 2026.

Selain faktor mitos, gaya hidup atau lifestyle masyarakat urban juga menjadi pemicu meningkatnya risiko darah tinggi pada ibu hamil. Konsumsi makanan olahan yang tinggi garam serta kurangnya aktivitas fisik yang tepat meningkatkan kerentanan ibu terhadap preeklamsia. Bahkan, tren penggunaan rokok elektrik atau vape pada wanita saat ini mulai menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai secara sosial.

Edukasi yang diberikan melalui program seperti "Dokter Etam" di Pro 4 RRI Samarinda bertujuan untuk memutus rantai ketidaktahuan tersebut. Ibu hamil didorong untuk membangun hubungan kepercayaan dengan tenaga kesehatan pilihan mereka. Kepercayaan ini penting agar setiap anjuran medis, mulai dari pengaturan pola makan hingga konsumsi obat, dapat dijalankan secara disiplin oleh pasien di rumah.

dr. Steven Thes juga menekankan pencegahan terbaik dimulai dari rumah dengan kemauan untuk melakukan skrining rutin. Masyarakat harus memahami bahwa skrining bukan sekadar prosedur administratif, melainkan investasi keselamatan bagi ibu dan calon bayi. Dukungan keluarga sangat diperlukan untuk memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang benar dan terhindar dari stres yang dapat memicu kenaikan tekanan darah.

"Kita tidak perlu terlalu ketakutan, tapi ini adalah hal yang harus kita waspadai. Caranya apa? Ya skrining dan kontrol rutin. Pilihlah tenaga kesehatan yang menurut ibu-ibu bisa diandalkan dan diajak berkomunikasi," kata dr. Steven Thes menutup edukasinya bagi masyarakat luas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....