Deteksi Dini Preeklamsia Kunci Keselamatan Ibu dan Bayi di Samarinda

  • 01 Mei 2026 12:16 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Preeklamsia tetap menjadi ancaman serius bagi keselamatan ibu dan janin karena sifatnya yang sering muncul secara mendadak pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Dirgahayu Samarinda, dr. Steven Thes, menjelaskan kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu selain perdarahan. Secara klinis, preeklamsia ditandai dengan tekanan darah tinggi dan ditemukannya protein dalam urin pasien.

Penanganan medis terhadap preeklamsia memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati karena berdampak langsung pada pasokan nutrisi janin. Menurut dr. Steven Thes, tekanan darah yang tinggi menyebabkan tahanan pembuluh darah meningkat sehingga aliran darah ke bayi menjadi terhambat. Hal ini memaksa janin dalam kondisi yang tidak ideal untuk tumbuh secara maksimal di dalam kandungan.

"Pada dasarnya preeklamsia ini adalah salah satu momok pembunuh ibu hamil. Dengan tensi yang tinggi, aliran darah ke bayinya itu berkurang, dalam tanda kutip bayi itu dipaksa untuk puasa," ujar dr. Steven Thes dalam dialog Dokter Etam bersama Pro 4 RRI Samarinda pada Kamis 23 April 2026. Kondisi ini jika dibiarkan dapat memicu pertumbuhan janin terhambat hingga kematian janin dalam rahim.

Tenaga medis di RS Dirgahayu dan fasilitas kesehatan lainnya di Samarinda kini memperketat prosedur skrining melalui Antenatal Care (ANC). Dokter akan memantau indeks massa tubuh, tekanan darah, dan hasil laboratorium secara berkala. Jika ditemukan risiko tinggi, dokter biasanya memberikan terapi profilaksis seperti aspirin dosis rendah dan kalsium dosis tinggi untuk mencegah perburukan kondisi.

Komplikasi medis dari preeklamsia dapat meluas hingga ke organ vital lainnya seperti paru-paru, hati, dan ginjal. Pasien bisa mengalami sindrom HELP, di mana terjadi pecahnya sel darah merah dan gangguan pembekuan darah yang sangat fatal saat persalinan. Oleh karena itu, observasi ketat di rumah sakit menjadi satu-satunya jalan jika gejala mulai mengarah pada preeklamsia berat atau eklamsia.

Kapan persalinan harus dilakukan menjadi keputusan krusial dalam dunia medis kebidanan. Jika kondisi ibu memburuk dengan gejala nyeri kepala hebat atau pandangan kabur, dokter tidak akan menunggu hingga usia kehamilan cukup bulan untuk melakukan terminasi. Penyelamatan nyawa ibu dan bayi menjadi prioritas utama di atas segala pertimbangan usia kehamilan.

"Kalau tensinya sudah tidak terkontrol, ibunya tiba-tiba nyeri kepala hebat, matanya kabur atau bahkan sampai kejang, ya sudah tidak usah tunggu 37 minggu. Saat itulah kita akan terminasi atau kita lahirkan demi menyelamatkan ibu maupun bayinya," kata dr. Steven Thes mengenai langkah medis kritis yang harus diambil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....