Kenali Gejala Khas Batu Empedu dan Cara Membedakannya

  • 14 Apr 2026 19:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penyakit batu empedu atau kolelitiasis sering kali mengecoh penderitanya karena gejalanya yang menyerupai sakit maag atau gangguan lambung. Banyak masyarakat yang mengeluhkan nyeri di area ulu hati dan menganggapnya sebagai masalah pencernaan biasa, padahal sumber masalahnya ada pada kantong empedu.

Dokter Spesialis Bedah Digestif Konsultan Rumah Sakit SMC Samarinda, Ahmad Tobroni Nasution, menjelaskan batu empedu terbentuk dari cairan empedu yang mengeras di dalam kantong empedu. Kondisi ini bisa bersifat tanpa gejala (asimptomatik) maupun menunjukkan tanda-tanda yang nyata (simptomatik).

Nyeri perut akibat batu empedu biasanya memiliki lokasi yang spesifik, yakni di daerah ulu hati atau perut kanan atas. Berbeda dengan maag biasa, nyeri ini memiliki kecenderungan untuk menjalar hingga ke area punggung bagian belakang.

Durasi nyeri yang dirasakan juga menjadi ciri khas tersendiri. Rasa sakit yang muncul secara mendadak ini biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup lama, bahkan bisa mencapai lima jam sebelum akhirnya mereda.

Salah satu pembeda utama dengan sakit maag adalah waktu munculnya rasa sakit tersebut. Pada batu empedu, nyeri justru sering muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan yang tinggi lemak atau kolesterol, seperti masakan bersantan atau gorengan.

"Membedakannya itu secara garis besar yaitu bahwa kalau misalkan nyeri di batu empedu itu biasanya setelah 1 jam setelah makan baru muncul nyerinya," ujarnya dalam program Indonesia Sehat di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 14 April 2026.

Dokter spesialis bedah digestif ini mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan diagnosa mandiri (self-diagnosis). Jika merasakan nyeri yang berulang di ulu hati, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan USG perut guna memastikan apakah ada kelainan di kantong empedu.

"Khasnya itu adalah tadi sudah disebutkan bahwa nyeri perut di daerah ulu hati. Munculnya biasanya 1 jam setelah kita makan-makan enak. Kalau misalkan sakit maag malah kebalikannya. Jika tidak makan, dia malah jadi akan sakit perutnya," ucapnya.

Pemeriksaan USG abdomen memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi, yakni di atas 90 persen, untuk mendeteksi keberadaan batu empedu. Dengan deteksi dini, penanganan yang tepat dapat diberikan sebelum terjadi komplikasi yang lebih serius.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....