Dokter Samarinda Ungkap Perbandingan Fatalitas jika Tolak Vaksin Campak

  • 06 Apr 2026 15:48 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masalah penolakan imunisasi masih menjadi tantangan besar dalam penanganan kasus campak di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur. Data medis menunjukkan adanya perbedaan risiko komplikasi yang sangat signifikan antara anak yang mendapatkan vaksinasi dengan yang tidak.

Dalam sosialisasi daring Dinas Kesehatan Kaltim, Dokter Spesialis Anak RSUD Abdul Wahab Sjahranie, dr. William S. Tjeng mengungkapkan anak yang tidak diimunisasi memiliki risiko komplikasi mencapai 30 persen. Angka ini mencakup berbagai gangguan kesehatan serius seperti radang telinga, radang paru, hingga radang otak.

Sebaliknya, bagi mereka yang telah mendapatkan imunisasi lengkap, risiko komplikasi menurun drastis hingga hanya 0,0033 persen. Hal ini membuktikan vaksin bukan hanya mencegah penularan, tetapi juga melindungi tubuh dari dampak paling fatal.

"Kalau sudah diimunisasi komplikasinya cuma 0,0033%. Kalau tidak diimunisasi komplikasinya 30%. Angka kematian kalau enggak divaksin sekitar 0,2%," ujar William pada Senin 6 April 2026.

William menambahkan jadwal imunisasi saat ini sudah diatur sedemikian rupa untuk memberikan proteksi maksimal hingga 97 persen. Pemerintah melalui program rutin memberikan vaksin MR pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak memasuki usia sekolah dasar.

Pihak RSUD Abdul Wahab Sjahranie juga menekankan imunisasi adalah perlindungan paling efektif yang bisa diberikan orang tua kepada anak. Tanpa perlindungan ini, virus campak yang masuk ke tubuh dapat menyerang organ mana saja dengan agresif.

Masyarakat diharapkan tidak lagi ragu terhadap keamanan vaksin demi keselamatan buah hati. Kesadaran kolektif dalam mengikuti jadwal imunisasi nasional menjadi benteng utama dalam menghadapi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....