Strategi Medis Menahan Laju Gagal Ginjal

  • 06 Apr 2026 10:21 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penanganan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) kini tidak hanya bertumpu pada obat-obatan, tetapi lebih menekankan pada manajemen nutrisi yang presisi. Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda, dr. Benedicta Afianti Indrastuti atau biasa dipanggil dr. Afi dalam dialog Dokter Etam pada 26 Maret 2026, menegaskan bahwa terapi gizi medis merupakan pilar krusial untuk mencegah penurunan fungsi filtrasi ginjal yang lebih drastis pada pasien.

Secara klinis, ginjal yang mengalami kerusakan fungsi tidak lagi mampu membuang sisa metabolisme protein secara optimal. Kondisi ini menuntut adanya pembatasan asupan protein yang sangat ketat untuk mengurangi beban kerja glomerulus. Jika asupan protein tidak dikendalikan, kadar ureum dalam darah akan melonjak dan mempercepat kebutuhan pasien untuk menjalani cuci darah atau hemodialisa.

Dokter Afi menjelaskan bahwa perhitungan kebutuhan protein harus dilakukan secara individual sesuai stadium penyakitnya. Umumnya, pasien PGK disarankan hanya mengonsumsi protein antara 0,3 hingga 0,8 gram per kilogram berat badan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan orang sehat pada umumnya demi menjaga kestabilan kondisi ginjal.

"Tujuan dari terapi gizi untuk penyakit ginjal kronis ini adalah mengoptimalkan asupan makan dengan segala keterbatasan yang ada, sehingga status gizi tetap terjaga dan mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut," ujar dr. Afi saat menjelaskan urgensi tindakan medis melalui jalur nutrisi.

Selain protein, aspek medis yang dipantau ketat adalah keseimbangan elektrolit dan cairan. Pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal sering kali mengalami penumpukan kalium dan natrium. Hal ini dapat memicu komplikasi jantung dan edema atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh yang sangat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan pembatasan diet yang tepat.

Dalam perspektif medis, penggunaan karbohidrat kompleks juga menjadi strategi untuk memastikan pasien tetap memiliki energi yang cukup. Meskipun protein dibatasi, kebutuhan kalori total tidak boleh berkurang agar tubuh tidak memecah otot sendiri sebagai sumber energi, yang justru akan meningkatkan kadar sampah nitrogen dalam tubuh.

Terakhir, dr. Afi mengingatkan bahwa PGK adalah penyakit yang bersifat menetap dan tidak dapat sembuh total secara medis. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap kontrol medis dan evaluasi laboratorium secara berkala menjadi kunci utama bagi pasien untuk tetap memiliki harapan hidup yang panjang meski dengan keterbatasan fungsi organ.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....