Waspada, Serangan Jantung Kini Intai Usia 20-an

  • 17 Feb 2026 07:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia, istilah “angin duduk” kerap dianggap sebagai keluhan ringan yang identik dengan masuk angin biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda serangan jantung yang mematikan.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Syifa Mahmud Syukran Akbar dari RS Hermina Samarinda saat menjadi narasumber dalam obrolan Tonight corner health, dikutip Selasa, 17 Februari 2026 menegaskan kesadaran terhadap kesehatan jantung harus dimulai sejak usia muda, termasuk mereka yang berada di rentang usia 20-an tahun.

Menurutnya, anggapan bahwa penyakit jantung hanya menyerang orang tua merupakan persepsi yang keliru. Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung pada usia muda adalah sebuah keharusan.

“Sangat penting dan memang penting sekali. Itu harus. Tidak boleh merasa karena masih muda pasti tidak kena jantung. Tidak bisa begitu,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kebiasaan buruk yang diterapkan sejak muda justru dapat mempercepat munculnya penyakit jantung. Kebiasaan seperti merokok, pola makan yang tidak terjaga, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor yang mendorong terjadinya gangguan jantung dan pembuluh darah di kemudian hari.

“Kalau dari muda sudah merokok, makanannya tidak dijaga, kemudian tidak pernah olahraga, itu kebiasaan-kebiasaan yang mengakibatkan kondisi di dalam tubuh mendukung terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah,” katanya.

Terkait jenis penyakit yang perlu diwaspadai, dr. Syifa menyebut serangan jantung sebagai salah satu yang paling sering terjadi dan bersifat mematikan. Di masyarakat, serangan jantung kerap disebut sebagai angin duduk.

Ia menjelaskan, istilah angin duduk muncul karena gejalanya sering disalahartikan sebagai masuk angin. Penderita biasanya merasakan dada tidak nyaman, mual, atau nyeri yang tidak kunjung hilang. Rasa tidak nyaman tersebut seolah “tidak pergi”, sehingga disebut angin duduk.

Padahal, kondisi tersebut merupakan keadaan darurat medis. Ia menegaskan bahwa tindakan seperti mengerok dada bukanlah solusi dan justru berbahaya jika itu adalah serangan jantung.

“Kalau ada dada tidak nyaman, nyeri dada sampai tembus ke punggung, dan kita curiga itu gejala serangan jantung, langsung bawa ke fasilitas kesehatan terdekat, ke rumah sakit terdekat yang ada pelayanan jantungnya,” ujarnya.

Penanganan cepat menjadi kunci untuk menekan risiko kematian dan komplikasi lebih lanjut. Karena itu, ia mengimbau masyarakat, khususnya usia muda, untuk tidak menyepelekan keluhan nyeri dada yang tidak biasa.

Meningkatnya gaya hidup sedentari dan kebiasaan tidak sehat di kalangan anak muda, kewaspadaan terhadap angin duduk sebagai tanda serangan jantung menjadi semakin penting. Deteksi dini dan perubahan gaya hidup sehat dinilai sebagai langkah utama untuk mencegah penyakit mematikan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....