Fenomena All You Can Eat dan Ancaman Food Waste

  • 06 Feb 2025 11:17 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Tren restoran all you can eat (AYCE) semakin menjamur di berbagai kota di Indonesia. Konsep yang menawarkan pelanggan kebebasan mengambil makanan sepuasnya dalam waktu tertentu ini memang menggoda, tetapi di balik kenikmatannya, ada ancaman besar yang mengintai yakni food waste atau pemborosan makanan.

Banyak restoran AYCE kini menerapkan aturan denda bagi pelanggan yang menyisakan makanan, tetapi sayangnya, kebiasaan mengambil makanan dalam jumlah berlebihan masih kerap terjadi. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia di seluruh dunia berakhir sia-sia, hilang, atau terbuang. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan ketidakefisienan dalam rantai pasok pangan, tetapi juga menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang signifikan.

Di Indonesia, persoalan sampah makanan menjadi perhatian utama. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sisa makanan menyumbang 41,4% dari total sampah nasional. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan sampah plastik yang hanya mencapai 18,6%. Besarnya limbah pangan ini mengindikasikan adanya masalah dalam distribusi, konsumsi, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan makanan.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Waste4Change dan World Research Institute, timbulan sampah makanan di Indonesia diperkirakan mencapai 115-184 kilogram (kg) per kapita per tahun selama periode 2000-2019. Ironisnya, jika sisa makanan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, jumlahnya cukup untuk mencukupi kebutuhan gizi bagi 61 hingga 125 juta orang di Indonesia. Ini menunjukkan adanya peluang besar dalam mengatasi permasalahan kelaparan dan gizi buruk di tanah air.

Aulia Nur Octavia, seorang mahasiswi bimbingan konseling yang juga aktif dalam gerakan zero waste saat menjadi narasumber program Spada Pro 2 RRI baru - baru ini berpendapat bahwa konsep AYCE yang diterapkan beberapa restoran kurang relevan dengan gaya hidup anti food waste yang ia anut.

"Dari banyak aspek kalau saya melihat dari segi ekonomi juga itu mungkin akan merugikan dimana saya bisa memilih opsi yang lebih pas secara uang, secara porsi dan secara rasa juga sebenarnya masih banyak pilihan yang lebih dari AYCE. Dari segi agama saya sebagai muslim juga saya meyakini mungkin kurang baik untuk makan yang berlebihan. " Ungkapnya

Aulia menekankan bahwa makan di restoran yang menerapkan konsep AYCE adalah sebuah pilihan, tetapi menurutnya akan lebih baik jika setiap orang memiliki kesadaran untuk tidak membuang - buang makanan, sehingga masyarakat dapat menikmati hidangan dengan lebih bijak tanpa meninggalkan jejak limbah yang berlebihan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....