Angka Kuno Era Kerajaan Kutai Ditemukan di Yupa Prasasti (Bagian II)

  • 03 Nov 2023 05:07 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Akademisi asal Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) resmi meluncurkan Buku berjudul "Numerasi Batu Bertulis Yupa Kerajaan Martapura di Kutai - Kalimantan Timur".

Mereka adalah Kurniawan dan Yulian Widya Saputra (Dosen Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, FKIP Universitas Mulawarman Samarinda) serta Fitria Nurul Hidayah (Dosen Luar Biasa di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda).

Sesuai judul, Prasasti Yupa menjadi obyek penelitian yang tak disangka

menguak pengetahuan baru dibidang keilmuan matematika serta unsur unsur Etnomatematika.

"Buku kajian numerasi memakai pendekatan ilmu sejarah. Lalu dipadukan dengan multidisiplin ilmu lain seperti geografi dan matematika (etnomatematika)," kata Kurniawan melansir rilis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPKD) Provinsi Kaltim, Kamis (02/11/2023).

Fakta menarik pun berhasil diungkap dalam buku ini seputar adanya istilah yang dipakai untuk melakukan penomoran bilangan matematika di masa lampau.

"Dahulu penyebutan angka memakai kata atau istilah yang dituliskan dalam huruf Pallawa berbahasa Sansakerta. Tulisan itu ditemukan ada dibagian atas Yupa (tongkat batuan beku monolit) yang merupakan sisa-sisa peradaban Kerajaan Martapura di Tanah Kutai," kata Yulian.


Numeralia Era Kerajaan Kutai di masa peradaban Hindu - Budha

KBRN, Samarinda : Dalam kunjungan Kurniawan dan Yulian - dua penulis Buku Numerasi Batu Bertulis Yupa ke Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPKD) Kalimantan Timur dalam rangka menyerahkan sejumlah buku untuk disumbangkan menjadi bahan bacaan bagi pemustaka Kaltim baru-baru ini, terungkap fakta adanya istilah bilangan era kerajaan Kutai yang tertulis di Yupa Prasasti.

Melansir siaran pers dari Humas DPKD Kaltim Kamis (02/11/2023), Kurniawan pada kesempatan itu turut menyontohkan sejumlah numeralia (hal yang berkaitan dengan bilangan dan angka) yang digunakan selama masa Kerajaan Kutai era Hindu – Budha sekitar abad ke 5 Masehi terukir jelas dibagian atas Yupa (batuan berbentuk tiang yang menjulang tinggi).

Misal, teks Sansakerta 'Aika' yang dalam teks Bahasa Indonesia berarti 'Satu'. Lalu, Dasa berarti sepuluh. Bila dilakukan penggabungan seperti 'Aikadasa' diartikan sebagai sebelas.

Kosakata aika, dwi, tri dan seterusnya tersebut memiliki arti suatu urutan atau penomoran anak dalam sebuah keluarga, selain itu juga bermakna sebagai tanggal lahir seseorang.

"Dahulu Aika menandakan satu, pada zaman sekarang ada perubahan kata fonem menjadi Eka menandakan anak pertama atau satu," ujarnya lagi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....