Gawai Pintar Kumpulkan Data Kesehatan, Kenali Risikonya bagi Pengguna
- 05 Okt 2026 16:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Gawai pintar yang dikenakan di pergelangan tangan semakin banyak digunakan untuk memantau aktivitas sehari-hari. Di balik kemudahannya, perangkat tersebut menyimpan beragam data pribadi, termasuk informasi kesehatan dan lokasi pengguna.
Detak jantung, pola tidur, jumlah langkah, hingga riwayat perjalanan dapat terekam secara otomatis. Sebagian data tersebut kemudian tersimpan pada layanan awan milik produsen dan dapat terhubung dengan berbagai aplikasi pendukung.
Pusat Koordinasi Keamanan Siber Hong Kong dalam panduan yang dirilis 3 Juli 2026 menyebut sebagian besar perangkat pintar kesehatan telah memantau setidaknya satu jenis informasi kesehatan. Lembaga tersebut juga mencatat sebagian perangkat mengumpulkan data lokasi dan membagikannya kepada pihak ketiga.
Risiko pengelolaan data juga terlihat dari laporan Yayasan Frontier Elektronik pada 15 Juli 2026. Laporan yang menguji sepuluh produsen perangkat kesehatan menemukan hanya sebagian kecil perusahaan yang menerbitkan laporan transparansi terkait permintaan data pengguna.
Laporan tersebut juga mencatat hanya satu produsen yang menyediakan enkripsi penuh untuk data kesehatan yang disimpan pada layanan awannya. Kondisi itu menunjukkan masih adanya tantangan dalam memastikan informasi sensitif pengguna terlindungi secara menyeluruh.
Ancaman tidak hanya datang dari cara produsen menyimpan data. Tim peneliti keamanan dari Universitas KU Leuven, Belgia, sebelumnya menemukan celah yang disebut WhisperPair dalam proses pemasangan awal perangkat nirkabel.
Celah tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mengambil alih perangkat korban dan mengakses komunikasi di sekitarnya. Ujar peneliti, persoalan keamanan pada tahap pemasangan perangkat perlu menjadi perhatian karena proses tersebut menjadi pintu awal hubungan antara perangkat dan sistem pengguna.
Data yang tersimpan dalam gawai juga dapat memiliki nilai penting dalam berbagai situasi. Riwayat aktivitas fisik, waktu tidur, hingga informasi lokasi bahkan pernah digunakan aparat penegak hukum dalam proses penyelidikan tindak pidana.
Karena itu, pengguna perlu lebih cermat dalam mengelola izin aplikasi yang terhubung dengan perangkat pintar. Kata peneliti keamanan, fitur pelacakan lokasi sebaiknya tidak terus aktif apabila memang tidak dibutuhkan.
Pengguna juga disarankan mencabut akses aplikasi yang sudah tidak digunakan. Ucapnya, permintaan pemasangan perangkat asing di tempat umum sebaiknya tidak diterima apabila tujuan dan sumbernya tidak jelas.
Di sisi lain, produsen perangkat pintar didorong meningkatkan transparansi dalam pengelolaan data. Informasi mengenai permintaan akses data serta penerapan enkripsi dinilai penting agar pengguna mengetahui bagaimana informasi kesehatan mereka disimpan dan digunakan.
Perlindungan data kesehatan pada akhirnya tidak hanya bergantung pada teknologi keamanan perangkat. Kesadaran pengguna dalam memberikan izin akses dan memilih koneksi yang aman juga menjadi bagian penting untuk mencegah informasi pribadi jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....