Nomor Ponsel Tiba-Tiba Mati? Waspada Penukaran Kartu Palsu

  • 05 Okt 2026 12:48 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Ponsel yang tiba-tiba kehilangan sinyal tanpa sebab yang jelas bisa menjadi tanda nomor seluler sedang dipindahkan ke kartu lain oleh pelaku penipuan. Modus ini dikenal sebagai SIM swap atau penukaran kartu SIM secara ilegal.

Pelaku dapat mengambil alih nomor korban tanpa menyentuh ponsel secara langsung. Korban terkadang baru menyadari adanya penipuan setelah akses ke layanan perbankan terganggu atau rekening mengalami transaksi yang tidak dikenal.

Dalam modus tersebut, pelaku mengaku sebagai pemilik nomor ketika berhadapan dengan petugas operator seluler. Pelaku kemudian meminta nomor korban dipindahkan ke kartu SIM yang dikuasainya. Permintaan tersebut dapat disetujui apabila dokumen dan informasi yang diberikan terlihat meyakinkan.

Modus ini tidak selalu membutuhkan kemampuan meretas perangkat. Peneliti Universitas Princeton pada 2020 menemukan adanya kelemahan dalam proses verifikasi ketika pelanggan mengajukan permintaan pemindahan nomor pada sejumlah operator seluler. Celah tersebut dapat dimanfaatkan pelaku untuk mengambil alih nomor korban.

Data pribadi menjadi salah satu modal utama dalam menjalankan aksi tersebut. Informasi seperti nama gadis ibu, tanggal lahir, alamat, dan data pribadi lainnya dapat diperoleh dari kebocoran data maupun media sosial.

Lillian Tracy dari lembaga konsumen PIRG, dalam keterangan yang dikutip Senin, 5 Oktober 2026, menyebut data pribadi menjadi salah satu kunci yang digunakan pelaku untuk melewati proses verifikasi. Informasi sederhana yang sering dibagikan secara terbuka justru dapat dimanfaatkan untuk meyakinkan petugas.

Setelah nomor berhasil dipindahkan, pesan dan panggilan yang masuk dapat diterima melalui kartu SIM yang dikuasai pelaku. Kondisi ini memungkinkan pelaku menerima kode verifikasi yang dikirim melalui pesan singkat dan mencoba mengambil alih akun, termasuk layanan perbankan dan surat elektronik.

Pelaku kemudian dapat menggunakan kode tersebut untuk mengatur ulang kata sandi atau melewati proses autentikasi tertentu. Dalam beberapa kasus, akses yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk melakukan transaksi tanpa sepengetahuan korban.

Catatan Federal Bureau of Investigation (FBI) menunjukkan kerugian akibat penipuan terkait pengambilalihan nomor seluler mencapai sekitar 26 juta dolar sepanjang 2024. Laporan tersebut mencatat 982 kasus dengan rata-rata kerugian puluhan ribu dolar pada setiap korban.

Untuk mengurangi risiko, pengguna dapat mengaktifkan fitur pengamanan nomor melalui operator seluler, termasuk PIN atau kode rahasia yang diperlukan untuk perubahan layanan. Penggunaan aplikasi autentikator juga dapat menjadi alternatif yang lebih aman dibandingkan mengandalkan kode verifikasi melalui pesan singkat.

Penggunaan eSIM juga dapat menjadi salah satu pilihan pengamanan, meski perlindungan tetap bergantung pada sistem verifikasi operator dan keamanan akun pengguna. Jika ponsel tiba-tiba kehilangan sinyal tanpa alasan yang jelas, pengguna disarankan segera menghubungi operator melalui saluran resmi menggunakan perangkat lain untuk memastikan status nomor.

Langkah cepat tersebut penting dilakukan karena semakin lama nomor berada dalam kendali pelaku, semakin besar peluang akun lain yang terhubung dengan nomor tersebut ikut disalahgunakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....