Cool Edit Pro, Aplikasi Lawas yang Masih Diminati Pengolah Audio
- 31 Agt 2026 02:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Di tengah banyaknya aplikasi pengolah audio modern, Cool Edit Pro masih memiliki tempat bagi pengguna yang menginginkan proses penyuntingan suara sederhana.
Perangkat lunak yang kini dikenal sebagai bagian dari sejarah Adobe Audition tersebut pernah menjadi pilihan populer untuk mengolah suara, terutama di kalangan penyiar radio dan pengguna komputer dengan spesifikasi terbatas.
Cool Edit Pro dikenal memiliki antarmuka yang relatif sederhana. Pengguna dapat melakukan penyuntingan suara melalui tampilan waveform maupun menggabungkan beberapa materi audio dalam mode multitrack.
“Daya tarik Cool Edit Pro ada pada pengoperasiannya yang sederhana. Pengguna bisa langsung melakukan penyuntingan suara tanpa harus mempelajari terlalu banyak menu,” ujar praktisi audio RRI Samarinda, Hartati dari bidang TMB, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kemampuan pengolahan suara yang tersedia juga cukup beragam. Pengguna dapat melakukan pengurangan noise, pengaturan volume, kompresi, equalizer, hingga menambahkan efek tertentu sesuai kebutuhan produksi.
Salah satu fitur yang banyak digunakan adalah Noise Reduction. Fitur tersebut dapat membantu mengurangi suara dengung atau desis yang terekam bersama suara utama.
Prosesnya dapat dilakukan dengan mengambil sampel bagian audio yang hanya berisi noise. Sampel tersebut kemudian digunakan sebagai acuan sebelum proses pengurangan noise diterapkan pada keseluruhan rekaman.
Namun, pengurangan noise tetap perlu dilakukan secara hati-hati. Pengaturan yang terlalu agresif justru dapat membuat karakter suara berubah atau terdengar kurang alami.
Fitur Normalize juga berguna untuk mengatur level audio. Sementara itu, Compressor dapat membantu membuat rentang volume suara menjadi lebih terkendali sehingga bagian yang terlalu pelan dan terlalu keras tidak terlalu jauh berbeda.
“Pengaturan compressor sebaiknya disesuaikan dengan karakter rekaman. Tidak ada satu angka yang otomatis cocok untuk semua suara,” ucapnya.
Pengguna juga dapat memanfaatkan Equalizer untuk membentuk karakter suara. Frekuensi tertentu dapat dikurangi atau ditingkatkan sesuai kebutuhan, misalnya untuk membuat suara terdengar lebih jelas atau mengurangi frekuensi rendah yang tidak diperlukan.
Dalam produksi podcast atau materi siaran, mode multitrack menjadi salah satu fitur yang cukup membantu. Suara penyiar dapat ditempatkan pada satu jalur, kemudian musik, jingle, dan efek suara ditempatkan pada jalur lainnya.
Setelah masing-masing elemen diatur, seluruh materi dapat digabungkan menjadi satu berkas audio. Cara tersebut membuat pengguna lebih mudah mengatur keseimbangan antara suara utama dan elemen pendukung.
Untuk membuat voice over sederhana, pengguna dapat memulai dengan merekam suara, memotong bagian yang tidak diperlukan, kemudian melakukan pembersihan dan pengaturan suara.
Tahap berikutnya dapat dilakukan dengan Normalize, Compressor, dan Equalizer sesuai kebutuhan. Setelah selesai, hasilnya dapat disimpan dalam format audio yang sesuai dengan kebutuhan produksi.
Penggunaan format WAV selama proses penyuntingan juga dapat menjadi pilihan ketika pengguna ingin mempertahankan kualitas audio tanpa kompresi lossy seperti pada MP3.
Meski sederhana, Cool Edit Pro memiliki keterbatasan karena merupakan perangkat lunak lama. Dukungan terhadap format dan teknologi audio modern tentu tidak seluas aplikasi pengolah audio yang dikembangkan saat ini.
“Kalau kebutuhannya hanya merekam dan mengolah suara secara dasar, aplikasi lama masih bisa terasa praktis. Tetapi untuk produksi yang membutuhkan fitur modern, pengguna tentu perlu mempertimbangkan perangkat lunak yang lebih baru,” katanya.
Cool Edit Pro sendiri tidak lagi dikembangkan sebagai produk mandiri setelah diakuisisi Syntrillium Software oleh Adobe. Adobe kemudian mengembangkan produk tersebut menjadi Adobe Audition.
Karena itu, penggunaan Cool Edit Pro saat ini lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan sederhana, kebiasaan pengguna lama, atau komputer dengan kemampuan terbatas.
Keberadaan aplikasi tersebut menjadi pengingat bahwa perangkat lunak lama masih dapat memiliki fungsi selama sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Namun, pengguna juga perlu mempertimbangkan aspek keamanan, kompatibilitas, dan legalitas perangkat lunak sebelum menggunakannya.
Bagi mereka yang baru belajar mengolah audio, prinsip dasar seperti membersihkan noise, mengatur volume, mengendalikan dinamika, dan menata beberapa sumber suara tetap relevan.
Teknologi boleh berubah, tetapi dasar pengolahan suara tetap memiliki prinsip yang sama. Dari perangkat lunak lawas hingga aplikasi modern, hasil akhir tetap sangat dipengaruhi kualitas rekaman dan kemampuan pengguna mengolahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....