Penemuan Kuburan Hiu Kuno Ungkap Gurun Mesir Dulunya Adalah Laut

  • 26 Agt 2026 10:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Gurun Mesir yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan paling kering di dunia ternyata menyimpan jejak kehidupan laut purba. Penemuan fosil gigi hiu dari sedikitnya tujuh spesies yang telah punah di kawasan Abu-Tartur, Gurun Barat Mesir, memberikan bukti bahwa wilayah tersebut pernah menjadi bagian dari ekosistem laut jutaan tahun lalu.

Temuan tersebut berasal dari lapisan batuan Duwi Formation di Abu-Tartur Plateau, wilayah barat daya Mesir. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cretaceous Research pada Selasa 18 Agustus 2026 mengidentifikasi kumpulan fosil hiu lamniform dari endapan fosfat yang terbentuk dalam lingkungan laut tropis pada periode Kapur Akhir.

Mengutip laman www.sciencedirect.com, Rabu 26 Agustus 2026, penelitian yang dipimpin paleontolog Tarek Yassin bersama sejumlah peneliti lainnya menemukan 14 gigi hiu yang terpisah dari lapisan fosfat di sektor Maghrabi-Liffiya, Abu-Tartur Plateau. Bentuk gigi yang ditemukan beragam, mulai dari gigi berujung sempit dan runcing hingga gigi berbentuk segitiga dengan tepi bergerigi.

Analisis terhadap fosil tersebut menunjukkan keberadaan beberapa spesies hiu yang telah punah. Di antaranya Cretalamna cf. maroccana, Scapanorhynchus cf. raphiodon, Serratolamna cf. serrata, Squalicorax bassanii, dan Squalicorax pristodontus. Sejumlah temuan bahkan menjadi catatan baru untuk Mesir dan Afrika.

Salah satu temuan yang menarik adalah gigi Scapanorhynchus cf. raphiodon. Fosil tersebut disebut sebagai catatan pertama jenis itu di Afrika. Penemuan ini memperluas pemahaman ilmuwan mengenai keanekaragaman hiu purba yang pernah hidup di kawasan Afrika Utara.

Menurut penelitian tersebut, lapisan fosfat Duwi Formation terbentuk di lingkungan laut tropis pada Kapur Akhir. Artinya, kawasan yang sekarang berupa gurun tandus dahulu memiliki kondisi lingkungan yang sangat berbeda dan menjadi habitat berbagai organisme laut.

Kondisi ini sejalan dengan bukti geologi lain dari wilayah Gurun Barat Mesir. UNESCO mencatat bahwa kawasan Wadi Al-Hitan, yang juga berada di Gurun Barat, menyimpan berbagai fosil organisme laut dan merupakan bukti penting perubahan lingkungan kawasan tersebut pada masa lalu.

Pada Wadi Al-Hitan, misalnya, ditemukan fosil paus purba yang menunjukkan perubahan evolusioner dari mamalia darat menjadi mamalia yang hidup di laut. UNESCO menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu situs terpenting di dunia untuk memahami tahap evolusi tersebut.

Temuan hiu di Abu-Tartur tidak berdiri sendiri. Endapan fosfat di sejumlah wilayah Afrika Utara telah diketahui menyimpan beragam fosil vertebrata laut. Kondisi tersebut membantu para ilmuwan merekonstruksi lingkungan masa lalu dan memahami bagaimana perubahan permukaan laut memengaruhi wilayah yang kini menjadi daratan dan gurun.

Penelitian terbaru mengenai fosil hiu Abu-Tartur memperlihatkan bahwa lapisan batuan Duwi Formation bukan sekadar endapan geologi biasa. Lapisan tersebut menjadi arsip alami yang menyimpan informasi mengenai ekosistem laut pada Kapur Akhir, termasuk keberadaan predator seperti hiu.

Penemuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa bentang alam modern tidak selalu menggambarkan kondisi Bumi pada masa lampau. Kawasan yang sekarang berupa gurun dapat menyimpan fosil organisme laut sebagai bukti bahwa lingkungan tersebut pernah mengalami perubahan besar selama jutaan tahun.

Wadi Al-Hitan menjadi contoh lain bagaimana gurun Mesir menyimpan rekaman perubahan lingkungan. UNESCO menetapkan kawasan tersebut sebagai Situs Warisan Dunia pada 2005 karena kekayaan dan kualitas fosilnya yang memberikan gambaran penting mengenai kehidupan serta lingkungan pada masa Eosen.

Dengan ditemukannya kumpulan fosil hiu di Abu-Tartur, para ilmuwan kembali mendapatkan petunjuk mengenai sejarah laut purba di Afrika Utara. Fosil gigi yang berukuran kecil tersebut menjadi bukti penting bahwa jutaan tahun lalu, kawasan yang kini dikenal sebagai Gurun Mesir merupakan bagian dari lingkungan laut yang dihuni beragam predator.

Temuan ini juga menegaskan pentingnya penelitian paleontologi dan geologi untuk mengungkap perubahan Bumi dari waktu ke waktu. Di balik hamparan pasir Gurun Mesir, tersimpan rekaman kehidupan purba yang dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana laut, daratan, dan ekosistem berubah selama jutaan tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....