Teknologi Hiu Berteknologi AI Bantu Ilmuwan Ramalkan Sistem Cuaca Ekstrem
- 19 Agt 2026 08:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarionda - Hiu selama ini dikenal sebagai predator laut, tetapi kini hewan tersebut dimanfaatkan ilmuwan untuk membantu meningkatkan kemampuan manusia dalam memprediksi cuaca ekstrem. Peneliti dari University of Delaware, Amerika Serikat, tengah mengembangkan metode yang menjadikan hiu sebagai pengumpul data kondisi laut secara bergerak dan mendekati waktu nyata.
Dikutip dari Reuters, penelitian tersebut menggunakan sensor kecil yang dipasang pada sirip punggung hiu. Perangkat yang disebut CTD (conductivity, temperature, and depth) itu dapat mengukur konduktivitas air yang berkaitan dengan salinitas, suhu, serta kedalaman ketika hiu berenang dan menyelam. Data yang diperoleh kemudian dikirim melalui satelit untuk membantu ilmuwan memahami kondisi laut.
Data tersebut penting karena kondisi permukaan hingga lapisan atas laut memiliki kaitan erat dengan perkembangan badai tropis dan hurikan. Para peneliti secara khusus memperhatikan mixed layer, yaitu lapisan permukaan laut yang menyimpan panas. Semakin hangat lapisan tersebut, semakin besar energi yang tersedia untuk memperkuat hurikan. Karena itu, informasi mengenai suhu laut dapat membantu memperbaiki pemodelan intensitas badai.
Penggunaan hiu sebagai pengumpul data memberikan keunggulan tersendiri. Hiu memiliki persebaran yang luas dan dapat bergerak ke wilayah laut yang sulit dijangkau pengamatan konvensional. Sejumlah jenis yang dipertimbangkan dalam penelitian ini antara lain hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil, dan hiu putih besar yang masih berusia muda. Jenis-jenis tersebut dipilih karena perilakunya memungkinkan sensor lebih sering berada di dekat permukaan sehingga data dapat dikirim ke satelit.
Teknologi sensor pada tubuh hewan laut bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, sensor serupa telah digunakan peneliti untuk memperoleh data laut dari mamalia seperti anjing laut gajah. Kini, para ilmuwan mencoba memperluas metode tersebut dengan memanfaatkan hiu sebagai "pengamat" kondisi laut yang dapat bergerak mengikuti lingkungan alaminya. Pemasangan perangkat dilakukan dengan memperhatikan kesejahteraan hewan, sementara perangkat dirancang agar dapat terlepas setelah periode tertentu.
Data Hiu Dipadukan dengan Kecerdasan Buatan
| Baca juga: Efek Radiasi Handphone pada Anak-Anak |
Data yang dikumpulkan hiu berpotensi menjadi bagian dari sistem pemodelan cuaca dan laut yang lebih canggih. Dalam perkembangan terbaru, kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan untuk mengolah data atmosfer dan lautan dalam jumlah besar. AI dapat mempelajari pola dari kumpulan data historis dan menghasilkan prediksi dengan jauh lebih cepat dibandingkan sejumlah metode komputasi konvensional.
Penelitian mengenai AI untuk prakiraan fenomena laut juga menunjukkan perkembangan pesat. Kajian yang diterbitkan Science Bulletin pada 2026 menyebut AI dapat digunakan untuk memprediksi berbagai fenomena laut dalam rentang waktu mulai dari hitungan jam hingga tahunan. Sistem tersebut dapat menggabungkan berbagai sumber informasi, seperti data satelit, pelampung laut, dan pengamatan langsung, untuk menghasilkan prakiraan fenomena laut yang lebih komprehensif.
Kombinasi antara data yang dikumpulkan hiu dan kemampuan AI berpotensi memperkaya informasi yang digunakan ilmuwan untuk memahami hubungan antara laut dan atmosfer. Data suhu, salinitas, dan kedalaman yang diperoleh dari pergerakan hiu dapat melengkapi data dari satelit serta instrumen pengamatan lainnya. Dengan semakin banyak data yang tersedia, model prakiraan dapat memperoleh gambaran kondisi laut yang lebih rinci.
Teknologi ini juga memiliki kaitan dengan upaya meningkatkan prakiraan badai tropis. Pada Agustus 2026, penelitian yang diterbitkan di Nature menunjukkan perkembangan model AI untuk prakiraan siklon tropis. Model tersebut dirancang menghasilkan prakiraan mengenai jalur, intensitas, dan ukuran siklon secara operasional.
Meski demikian, AI belum dapat menggantikan seluruh metode prakiraan cuaca. Para ilmuwan masih menilai berbagai keterbatasan, terutama dalam memprediksi intensitas badai dan kejadian ekstrem tertentu. Kajian Nature menekankan perlunya pengujian yang lebih ketat sebelum model AI digunakan secara luas oleh lembaga prakiraan cuaca publik.
Potensi untuk Sistem Peringatan Dini
Jika terus dikembangkan, teknologi hiu sebagai pengumpul data dapat membantu meningkatkan pemahaman terhadap perubahan kondisi laut sebelum terjadinya badai. Informasi tersebut kemudian dapat dipadukan dengan model AI dan sistem prakiraan cuaca untuk menghasilkan peringatan dini yang lebih baik bagi masyarakat pesisir.
Manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan keselamatan manusia. Prakiraan cuaca ekstrem yang lebih akurat dapat membantu pemerintah mempersiapkan evakuasi, mengurangi risiko kerusakan, serta memberikan informasi kepada nelayan dan masyarakat pesisir agar dapat mengambil keputusan lebih cepat.
Pada akhirnya, inovasi ini menunjukkan bahwa solusi untuk menghadapi cuaca ekstrem dapat datang dari kombinasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan alam. Hiu bukan hanya menjadi objek penelitian kelautan, tetapi juga berpotensi menjadi "sensor hidup" yang membantu ilmuwan memahami kondisi laut. Ketika data tersebut dipadukan dengan kecerdasan buatan, peluang untuk menghasilkan sistem prakiraan cuaca ekstrem yang lebih cepat dan akurat pun semakin terbuka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....