Deepfake Makin Sulit Dibedakan, Ini Cara Mengenali Video dan Suara AI Palsu
- 30 Jul 2026 10:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat pembuatan video, gambar, dan suara palsu atau deepfake menjadi semakin realistis. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kreatif, namun juga mulai disalahgunakan untuk penipuan, penyebaran hoaks, pencemaran nama baik, hingga upaya pencurian identitas.
Dengan kualitas yang semakin baik, masyarakat kini perlu lebih berhati-hati terhadap video atau rekaman suara yang beredar di media sosial, aplikasi percakapan, maupun platform digital lainnya. Tidak semua konten yang terlihat atau terdengar meyakinkan benar-benar berasal dari orang yang ditampilkan.
Dilansir dari panduan keamanan siber yang diterbitkan oleh National Cyber Security Centre pada Januari 2024, teknologi AI generatif memungkinkan pembuatan konten digital yang sangat menyerupai manusia asli. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikan informasi yang berasal dari video maupun rekaman suara.
Salah satu tanda yang dapat diperhatikan adalah gerakan bibir dan ekspresi wajah. Pada beberapa video deepfake, gerakan mulut terkadang tidak sepenuhnya selaras dengan suara, sementara ekspresi wajah atau kedipan mata dapat terlihat kurang alami, meskipun teknologi ini terus mengalami perkembangan.
Selain itu, perhatikan kualitas suara. Rekaman suara hasil AI terkadang memiliki intonasi yang terlalu datar, jeda berbicara yang tidak wajar, atau pengucapan kata tertentu yang terdengar berbeda dari kebiasaan orang asli. Meski semakin sulit dikenali, perbedaan kecil tersebut masih dapat menjadi petunjuk.
Pengguna juga perlu mencurigai video yang berisi permintaan mendesak, seperti ajakan mentransfer uang, membagikan kode OTP, atau mengirimkan data pribadi. Jika video atau pesan suara mengatasnamakan anggota keluarga, rekan kerja, atau atasan, lakukan konfirmasi melalui panggilan telepon atau saluran komunikasi lain sebelum mengambil tindakan.
Selain memeriksa isi konten, masyarakat juga disarankan mengecek sumber video tersebut. Pastikan informasi berasal dari akun resmi atau media yang terpercaya. Hindari langsung mempercayai video yang hanya beredar melalui unggahan ulang tanpa sumber yang jelas.
Apabila menemukan konten yang diduga merupakan deepfake, jangan terburu-buru membagikannya. Laporkan kepada platform media sosial apabila terbukti menyesatkan, serta bantu menghentikan penyebaran informasi palsu dengan membagikan klarifikasi dari sumber resmi.
Dengan meningkatkan literasi digital dan selalu melakukan verifikasi terhadap video maupun rekaman suara yang diterima, masyarakat dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan maupun penyebaran informasi palsu yang memanfaatkan teknologi AI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....