Minat Masyarakat Dari Negara Austria Belajar Bahasa Indonesia Naik Dua Kali Lipat

  • 25 Jul 2026 09:02 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Minat masyarakat Austria untuk mempelajari Bahasa Indonesia terus meningkat. Kondisi ini menjadi bukti semakin besarnya ketertarikan masyarakat internasional terhadap bahasa sekaligus kekayaan budaya Indonesia.

Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Austria periode 2025–2026, Yunita Sinaga, mengatakan peningkatan jumlah pemelajar terlihat selama dirinya mengajar di Austria. Pada semester musim panas (summer semester), jumlah peserta bahkan meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan semester sebelumnya.

"Ketika saya mengajar pada winter semester, kemudian memasuki summer semester, jumlah pemelajar meningkat hingga dua kali lipat. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri karena saya merasa berhasil menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap Bahasa Indonesia," ujar Yunita.

Yunita menjelaskan, menjadi pengajar BIPA di luar negeri tidaklah mudah. Setiap calon pengajar harus melalui serangkaian seleksi, termasuk uji kemahiran berbahasa Indonesia dengan standar nilai tertentu. Selain itu, mereka juga dituntut mampu menjadi duta budaya dengan memperkenalkan beragam kekayaan Indonesia kepada masyarakat internasional.

"Untuk menjadi pengajar BIPA luar negeri ada begitu banyak proses yang harus dilewati. Kami tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga memperkenalkan budaya Indonesia, mulai dari tari, kuliner, alat musik, hingga berbagai tradisi Nusantara," ucapnya.

Perempuan yang mulai mengajar BIPA sejak 2018 itu mengawali pengalamannya di Universitas Kutai Kartanegara dengan mengajar peserta dari 12 negara melalui program yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri. Pengalaman tersebut menjadi bekal sebelum dipercaya mengajar di Austria pada 2025.

Menurut Yunita, motivasi peserta mempelajari Bahasa Indonesia sangat beragam. Sebagian ingin berwisata ke Indonesia, memiliki pasangan warga Indonesia, pernah bekerja di Indonesia, hingga mempersiapkan diri menjadi diplomat. Peserta yang memiliki tujuan dan komitmen kuat umumnya mampu menyelesaikan seluruh jenjang pembelajaran BIPA.

Dalam proses belajar, Yunita menerapkan pendekatan kontekstual yang dipadukan dengan communicative approach agar peserta mampu menggunakan Bahasa Indonesia secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Praktik percakapan dengan penutur asli juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran.

"Saya ingin mereka benar-benar menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Karena itu, saya menghadirkan simulasi dan praktik langsung bersama penutur asli. Bahkan, beberapa murid akhirnya datang langsung ke Indonesia karena semakin mencintai bahasa dan budaya Indonesia," kata dia.

Keberhasilan meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia di Austria menunjukkan bahwa bahasa Indonesia semakin mendapat tempat di dunia internasional. Melalui program BIPA, promosi bahasa dan budaya Indonesia tidak hanya memperluas jejaring diplomasi budaya, tetapi juga mendorong kunjungan masyarakat asing ke Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....