AI Mampu Kembangkan Diri, Pakar Ingatkan Pentingnya Kendali Manusia

  • 02 Jul 2026 07:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memasuki fase baru yang dikenal sebagai recursive self-improvement (RSI), yakni kemampuan sistem AI untuk membantu mengembangkan penerusnya secara semakin mandiri. Perkembangan ini mulai menjadi perhatian kalangan peneliti karena dinilai berpotensi mengubah arah pengembangan teknologi dalam waktu yang jauh lebih cepat.

Dalam laporan "When AI Builds Itself" yang diterbitkan Anthropic Institute, Marina Favaro dan Jack Clark menjelaskan bahwa teknologi tersebut belum sepenuhnya terwujud. Namun, keduanya mengingatkan bahwa perkembangannya dapat berlangsung lebih cepat daripada kesiapan banyak institusi. "We are not there yet, and recursive self-improvement is not inevitable. But it could come sooner than most institutions are prepared for," tulis Marina Favaro dan Jack Clark dalam laporan resmi Anthropic Institute.

Anthropic menjelaskan bahwa saat ini AI telah mengambil porsi yang semakin besar dalam proses pengembangan AI itu sendiri, mulai dari penulisan kode hingga membantu penelitian. Data internal perusahaan menunjukkan produktivitas pengembangan perangkat lunak meningkat signifikan seiring meningkatnya kontribusi model AI terhadap proses tersebut.

Perkembangan itu memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan hilangnya kendali manusia apabila suatu saat AI mampu merancang dan mengembangkan sistem penerusnya tanpa campur tangan manusia. Karena itu, para peneliti menilai aspek keamanan, pengawasan, dan tata kelola AI harus dipersiapkan sejak dini.

Di sisi lain, Pendiri Thrive Global, Arianna Huffington, menilai kemajuan AI justru menjadi pengingat pentingnya memperkuat kemampuan yang menjadi keunggulan manusia. Menurutnya, penilaian, kebijaksanaan, refleksi diri, serta kemampuan menentukan persoalan yang benar-benar penting merupakan kualitas yang tidak mudah digantikan oleh mesin.

Huffington juga menyoroti bahwa berbagai teknologi digital, khususnya media sosial, sering kali mendorong pengguna larut dalam arus informasi tanpa ruang yang cukup untuk melakukan refleksi. Kondisi tersebut dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya kecemasan, polarisasi, dan menurunnya kualitas dialog di ruang publik.

Karena itu, penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi fondasi penting di tengah pesatnya perkembangan AI. Kemampuan manusia dalam mengevaluasi informasi, mempertimbangkan dampak jangka panjang, serta mengambil keputusan berdasarkan nilai dan etika dipandang tetap menjadi pembeda utama dibandingkan sistem kecerdasan buatan.

Seiring AI terus berkembang, berbagai lembaga riset juga mendorong pemerintah, industri, dan akademisi untuk mempercepat penyusunan kerangka regulasi dan mekanisme pengawasan. Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan inovasi AI tetap memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengorbankan aspek keselamatan, transparansi, maupun kendali manusia atas teknologi.











google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....