Biomassa Dinilai Jadi Peluang Besar Transisi Energi di Kalimantan Timur

  • 01 Jul 2026 07:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kalimantan Timur dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu daerah yang memimpin transisi energi nasional. Selain energi air dan tenaga surya, potensi biomassa dari limbah perkebunan hingga lahan pascatambang dinilai masih belum dimanfaatkan secara optimal, padahal mampu menghasilkan listrik sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Di tengah komitmen Indonesia mencapai target net zero emission, pengembangan energi baru terbarukan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Bagi Kalimantan Timur yang selama puluhan tahun bergantung pada sektor batu bara dan migas, transisi menuju energi hijau dipandang bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga strategi menjaga keberlanjutan ekonomi daerah.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau (YMH), Dicky Edwin Hiendarto, mengatakan sumber energi terbarukan yang paling potensial di Kalimantan Timur tidak hanya berasal dari tenaga surya maupun pembangkit listrik tenaga air, tetapi juga biomassa yang selama ini belum mendapat perhatian serius.

Menurutnya, tenaga air memiliki potensi besar melalui proyek-proyek di Kalimantan Utara yang nantinya dapat memasok kebutuhan energi di kawasan Kalimantan. Sementara tenaga surya dinilai mudah dikembangkan karena dapat dipasang hampir di seluruh wilayah tanpa membutuhkan kondisi geografis tertentu.

Namun demikian, Dicky menilai biomassa justru menjadi sumber energi yang memiliki peluang paling besar untuk dikembangkan di Kalimantan Timur karena didukung melimpahnya sumber bahan baku dari sektor perkebunan dan kehutanan.

"Banyak orang melupakan biomassa. Padahal Kalimantan Timur memiliki potensi yang sangat besar, baik dari lahan pascatambang, limbah perkebunan sawit, maupun sisa produksi kehutanan yang semuanya dapat diolah menjadi energi," katanya.

Ia menjelaskan, lahan pascatambang yang telah selesai direklamasi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman energi. Tanaman tersebut kemudian dapat diolah menjadi biomassa yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik sehingga lahan bekas tambang tidak hanya dipulihkan secara ekologis, tetapi juga memberikan nilai ekonomi baru.

Selain tanaman energi, limbah industri kelapa sawit juga dinilai menyimpan potensi besar. Sisa tandan kosong, pelepah, hingga limbah cair sawit dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi melalui berbagai teknologi, termasuk produksi biodiesel, biofuel, maupun pembangkit listrik berbasis biomassa.

Dicky juga menyoroti potensi methane capture, yakni teknologi penangkapan gas metana yang dihasilkan dari limbah pabrik kelapa sawit. Menurutnya, teknologi tersebut telah berkembang di Sumatera dan mampu menghasilkan energi bernilai ekonomi tinggi, namun penerapannya di Kalimantan Timur masih sangat terbatas.

"Gas metana dari limbah sawit sebenarnya bisa ditangkap dan dimanfaatkan menjadi listrik maupun energi hijau untuk kebutuhan industri. Di Sumatera sudah banyak diterapkan, sedangkan di Kalimantan potensi ini masih belum dimaksimalkan," ujarnya.

Ia menilai pengembangan biomassa tidak hanya mendukung target transisi energi, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru yang melibatkan masyarakat. Mulai dari penanaman tanaman energi, pengelolaan limbah perkebunan, hingga industri pengolahan biomassa diperkirakan mampu membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurut Dicky, keberhasilan transisi energi di Kalimantan Timur akan sangat bergantung pada kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Kepastian regulasi, pemanfaatan lahan pascatambang, serta investasi pada teknologi energi hijau menjadi faktor penting agar potensi biomassa tidak hanya menjadi wacana, tetapi berkembang menjadi salah satu pilar ekonomi baru di daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....