Tes Psikologi Ungkap Kelemahan Terbesar Kecerdasan Buatan

  • 29 Jun 2026 21:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus menunjukkan kemampuan yang mengesankan dalam berbagai bidang. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa AI masih memiliki kelemahan mendasar dalam mempertahankan fokus ketika dihadapkan pada tugas yang semakin kompleks.

Dilansir dari ScienceDaily, tim peneliti menguji sejumlah model AI menggunakan Stroop Test, yaitu tes psikologi yang selama puluhan tahun digunakan untuk mengukur perhatian, konsentrasi, dan kemampuan mengendalikan fokus pada manusia. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus.

Dalam pengujian, model AI diminta menyebutkan warna tinta dari sebuah kata, bukan membaca kata yang tertulis. Pada daftar yang terdiri dari lima kata, sebagian besar model AI mampu menyelesaikan tugas dengan tingkat akurasi yang tinggi. Namun, ketika jumlah kata diperbanyak hingga puluhan, tingkat ketepatan jawabannya menurun drastis.

Salah satu model AI tercatat memiliki akurasi lebih dari 90 persen pada pengujian sederhana. Akan tetapi, ketika daftar diperpanjang menjadi 40 kata, tingkat akurasinya turun hingga sekitar 15 persen. Pada beberapa kondisi yang lebih kompleks, akurasi sejumlah model bahkan mendekati nol persen.

Peneliti menemukan, AI mulai kehilangan kemampuan untuk mengikuti instruksi utama ketika gangguan semakin banyak. Alih-alih menyebut warna tinta, sistem justru kembali membaca kata yang ditampilkan. Kondisi tersebut menunjukkan AI masih kesulitan mempertahankan perhatian terhadap tujuan yang sama dalam waktu lama.

Temuan ini memperlihatkan adanya perbedaan mendasar antara cara kerja AI dan otak manusia. Meskipun AI mampu menghasilkan teks, menganalisis data, dan menyelesaikan berbagai persoalan kompleks, mekanisme pengendalian perhatian yang dimilikinya belum menyamai kemampuan manusia dalam menyaring gangguan selama mengerjakan suatu tugas.

Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pengembang kecerdasan buatan untuk meningkatkan kemampuan executive control pada model AI generasi berikutnya. Dengan sistem yang lebih mampu mempertahankan fokus, AI berpotensi memberikan hasil yang lebih konsisten dalam berbagai aplikasi, mulai dari riset ilmiah hingga layanan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....