RTX Spark, Alasan Nvidia Tinggalkan Arsitektur X86

  • 10 Jun 2026 19:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Laptop dan komputer berbasis Windows selama ini identik dengan prosesor x86 buatan Intel atau AMD. Nvidia mengubah paradigma itu lewat RTX Spark, sebuah chip baru berbasis ARM yang diumumkan bersama Microsoft di ajang Computex 2026, dikutip Rabu, 10 Juni 2026. Berdasarkan blog resmi Windows dan Arm Newsroom, inilah alasan di balik pilihan besar itu.

RTX Spark adalah System on Chip (SoC) yang memadukan tiga komponen dalam satu paket: prosesor Grace berbasis ARM dengan 20 inti, GPU Blackwell RTX dengan 6.144 inti CUDA, serta unified memory LPDDR5X hingga 128 gigabita. Ketiganya dihubungkan lewat NVLink C2C, jalur interkoneksi berkecepatan tinggi yang menjadi keunggulan utama chip ini dibanding arsitektur x86 konvensional.

Pada arsitektur konvensional, CPU dan GPU adalah dua chip terpisah yang berkomunikasi lewat jalur PCIe dengan keterbatasan bandwidth. RTX Spark menghapus jembatan itu sepenuhnya. CPU dan GPU kini berbagi satu memory pool yang sama, sehingga data tidak perlu lagi disalin bolak-balik antara keduanya, inilah inti dari keunggulan ARM atas x86 dalam era AI.

Hasilnya adalah efisiensi yang dramatis. Mengutip blog resmi Windows, RTX Spark mampu menghasilkan 1 petaflop performa AI dengan performance per watt terbaik di kelasnya, sebuah capaian yang sebelumnya hanya bisa dicapai oleh peladen (server) berukuran lemari di pusat data.

Kemampuan memorinya pun jauh melampaui laptop konvensional. GPU pada laptop x86 biasanya hanya mendapat jatah 8 hingga 16 gigabyte dedicated memory terpisah. Pada RTX Spark, GPU bisa mengakses hingga 128 gigabyte unified memory secara dinamis, cukup untuk menjalankan model AI hingga 120 miliar parameter langsung di perangkat lokal tanpa koneksi internet.

Mengutip Arm Newsroom, VP Product Management Nvidia Kaustubh Sanghani menegaskan, AI agents membutuhkan integrasi ketat antara GPU, CPU, dan memori agar bisa memberikan pengalaman AI yang responsif dan efisien di perangkat lokal.

"Dengan prosesor Grace berbasis ARM yang terhubung erat dengan GPU Blackwell RTX dan unified memory, RTX Spark menggabungkan kepemimpinan Nvidia dalam accelerated computing dan AI untuk menemukan kembali komputasi personal," katanya.

Microsoft pun mengoptimasi Windows secara khusus untuk arsitektur ini. Workload scheduler Windows diperbarui agar bisa mendistribusikan tugas secara efisien ke seluruh 20 inti prosesor ARM. Emulator Prism juga disempurnakan sehingga aplikasi x86 lama tetap bisa berjalan tanpa hambatan di atas arsitektur ARM.

Bagi pengguna biasa, RTX Spark menjanjikan laptop tipis dan ringan yang mampu menjalankan content creation berat, pengembangan AI, dan gaming tanpa GPU eksternal. Nvidia dan Microsoft memposisikannya bukan sekadar chip baru, melainkan awal dari agentic era di mana AI bukan lagi fitur tambahan, melainkan inti dari setiap pekerjaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....