Tingginya Pertumbuhan Internet Tak Diimbangi Etika Digital Masyarakat
- 22 Apr 2026 12:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tingginya penetrasi internet di Indonesia dinilai belum diimbangi dengan kesiapan masyarakat dalam etika penggunaan teknologi komunikasi. Kondisi ini memicu berbagai persoalan di ruang digital, mulai dari cyber bullying, kejahatan siber, hingga penyalahgunaan informasi.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Sari Mulyani, menilai masyarakat belum mendapatkan pendidikan memadai terkait penggunaan ruang digital secara aman dan bertanggung jawab.
“Saya ngutip dari salah satu YouTuber Jerom Polin tuh pernah ngobrol dengan siapa saya lupa. Real aja. Kita tuh masih belum siap dengan banyak teknologi dalam komunikasi gitu loh. Kita ketika memegang handphone kita tidak pernah diajarin apa yang boleh apa yang tidak,” ujarnya dalam obrolan SPADA dikutip Rabu, 22 Apri 2026.
Ia menjelaskan, tingkat akses internet di Indonesia sudah sangat tinggi, namun belum diikuti dengan literasi digital yang memadai.
“Enggak ya itu kan ya kenapa? Karena memang generasi kita sebelumnya enggak pernah punya pengalaman itu. Tapi ketika generasi kita yang megangnya tahu-tahu itu sudah jadi bagian dari hari-hari kita, engagement kita terhadap internet itu cukup tinggi. Sebenarnya penetrasi kita 82 persen sampai 95 persen di wilayah Indonesia tuh sudah terakses,” katanya.
Menurutnya, dari total populasi, lebih dari 200 juta penduduk sudah dapat mengakses internet, namun tanpa pembekalan yang cukup terkait etika dan keamanan digital.
“Yang artinya 229 juta dari 289 juta orang di Indonesia itu bisa mengakses internet. Nah, ada pendidikan enggak untuk ini? belum ada gitu loh,” ujarnya.
Ia menyoroti berbagai dampak negatif yang muncul, termasuk cyber bullying dan kejahatan digital, sebagai konsekuensi dari rendahnya pemahaman masyarakat.
“Kita baru menyadari misalnya yang dampak buruknya kan ada cyber bullying, cyber crime yang tadi tuh yang pinjol ya tadi kalau enggak salah iklannya itu. Nah, kita enggak pernah di kita ketika mau ibaratnya masuk ke dunia ini, kita masih belum tahu dunia ini seperti apa,” katanya.
Ia menilai ketiadaan “benteng” atau panduan membuat masyarakat mudah terbawa arus informasi di ruang digital.
“Sementara kita enggak punya benteng seperti apa yang akan terjadi karena tidak ada kepastian. dan kita ngikutin arus, akhirnya kita jadi kebablasan,” ujarnya.
Sari menekankan pentingnya penerapan kontrol sosial di ruang digital sebagaimana yang berlaku dalam kehidupan sosial offline.
“Nah, jadi ini berawal dari mana? Mungkin di etika tadi saya bilang kalau misalnya Pancasila kewarganegaraan itu pasti dapat kan ya. tolonglah ketika berada di online zone atau di wilayah sosial yang dunia maya, dunia internet itu juga diberlakukan kontrol sosialnya,” katanya.
Ia juga mengingatkan peran masyarakat dalam mengendalikan penyebaran informasi, terutama terkait konten yang berpotensi merugikan.
“Tapi karena terlalu banyak kita sesama masyarakat saling mengontrol. Ketika ada sesuatu yang sebetulnya buruk tolong jangan diviralkan. Jangan diikut-ikutkan,” ujarnya.
Menurutnya, logika algoritma media sosial sering kali memperkuat konten yang banyak mendapat respons, sehingga mempercepat penyebaran informasi.
“Nah itu terjadi ketika pembiarannya ada membiarkan sesuatu yang disebutnya kalau ah ini enggak layak kok. Ya udah jangan diikutin terus. Kalau perlu enggak usah komentar, jarinya diabaikan itu loh,” katanya.
Ia menilai ruang digital seharusnya diperlakukan sama dengan ruang sosial offline yang memiliki norma dan kontrol sosial.
“Mungkin kita bisa memperlakukan ruang internet itu sama seperti ruang dunia kita sehari-hari. Ada kontrol sosial, ada etika yang diberlakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya tersebut dapat membantu mengurangi fenomena judgment cepat tanpa pemahaman utuh terhadap informasi.
“Dari mob judgement tadi, dari terlalu cepat mengambil keputusan, terlalu cepat men-judge seseorang, menghakimi tanpa membaca,” katanya.
Sari menegaskan tiga hal penting dalam membangun ekosistem digital yang sehat, yakni etika, literasi, dan budaya diskusi yang baik.
“Yang pertama itu etika media sosial itu perlakukan sama kayak media pada umumnya seperti media offline. Ada kontrol sosialnya dan yang lainnya. Terus yang kedua literasi media sosial dan yang terakhir adalah ayo kita diskusi yang baik,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....