Mengenal Perbedaan Ikan Masapi dan Belut Sidat
- 25 Feb 2026 22:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Meskipun sekilas terlihat serupa dengan tubuh memanjang menyerupai ular, ikan masapi dan belut sidat sebenarnya memiliki karakteristik yang berbeda secara biologis maupun habitat. Banyak masyarakat awam sering tertukar menyebut keduanya, padahal perbedaan mendasarnya cukup signifikan untuk dikenali.
Dikutip dari berbagai sumber, secara taksonomi kedua ikan ini berasal dari famili yang sama, yaitu Anguillidae. Ikan masapi memiliki nama ilmiah Anguilla marmorata, yang diambil dari kata "marmer" karena corak kulitnya yang berbintik eksotis. Sementara itu, sidat yang umum dijumpai atau dibudidayakan biasanya merujuk pada spesies Anguilla bicolor, yang memiliki warna kulit cenderung polos atau monokrom, seperti dilansir dari australian.museum.
Mengutip dari e-journal Kementerian Kelautan dan Perikanan, dari sisi habitat, keduanya memiliki siklus hidup yang sangat kontras. Sidat adalah ikan katadromus, yang berarti mereka menghabiskan masa dewasa di air tawar seperti sungai atau danau, namun akan melakukan perjalanan ribuan kilometer ke laut dalam untuk memijah, atau proses reproduksi pada ikan dan hewan air lainnya, di mana induk betina melepaskan sel telur dan induk jantan melepaskan sperma ke dalam air untuk pembuahan. Sebaliknya, ikan masapi yang sering ditemukan di perairan deras pegunungan cenderung memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat terhadap arus dibandingkan belut biasa.
Perbedaan utama yang paling mencolok secara fisik terletak pada sirip dada (pektoral). Sidat dan masapi memiliki sirip dada kecil di dekat kepala yang membuatnya terlihat seperti memiliki "telinga", ciri yang tidak dimiliki oleh belut sawah (Monopterus albus). Hal ini menjadi pembeda krusial bagi konsumen agar tidak salah mengidentifikasi jenis ikan saat membeli di pasar. Secara fisik, tekstur kulit dan bentuk ekor juga menjadi pembeda. Sidat memiliki ekor yang cenderung pipih dan menyatu dengan sirip punggung serta sirip ekor, menciptakan tampilan seperti dayung. Sementara itu, ikan masapi dewasa biasanya memiliki corak kulit yang lebih kontras atau sering disebut sebagai "sidat kembang" (Anguilla marmorata) karena pola marmer pada tubuhnya yang eksotis.
Kandungan gizi juga menjadi alasan mengapa kedua komoditas ini sangat diburu. Sidat dikenal memiliki kandungan Omega-3 (DHA dan EPA) yang sangat tinggi, bahkan melampaui kandungan gizi pada ikan salmon. Hal inilah yang membuat harga sidat, termasuk varian masapi, melonjak tajam di pasar internasional seperti Jepang, di mana mereka diolah menjadi kuliner mewah bernama Unagi.
Bagi para pembudidaya, membedakan keduanya sangat penting karena pola makan dan kualitas air yang dibutuhkan berbeda. Ikan masapi atau sidat membutuhkan air dengan kadar oksigen yang lebih tinggi dan bersih dibandingkan belut sawah yang mampu bertahan hidup di dalam lumpur dengan oksigen minim.
Sebagai kesimpulan, memahami perbedaan antara ikan masapi dan sidat bukan sekadar soal nama, melainkan pemahaman terhadap ekosistem perairan kita. Dengan mengenali ciri fisik berupa sirip dada dan pola hidupnya, kita dapat lebih menghargai kekayaan hayati sungai-sungai di Indonesia yang menjadi jalur migrasi penting bagi spesies luar biasa ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....