Hari Read Aloud Internasional Dorong Budaya Membaca Nyaring
- 04 Feb 2026 18:31 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda : Peringatan Hari Read Aloud Internasional menjadi momentum untuk kembali mengampanyekan pentingnya kegiatan membacakan nyaring atau read aloud sebagai fondasi membangun literasi anak sejak usia dini. Pegiat literasi sekaligus pengurus komunitas Samarinda Read Aloud, Hesti Suci Mawarni, menegaskan read aloud bukan sekadar aktivitas membaca biasa, melainkan proses literasi yang memiliki dampak jangka panjang.
“Read aloud adalah kegiatan membacakan buku dengan lantang kepada pendengar. Ada tiga unsur yang tidak boleh terpisah, yakni pembaca, bahan bacaan, dan pendengar. Ketika ketiganya hadir, di situlah konsep read aloud berjalan,” ujar Hesti dalam obrolan Sudut Tanya Podcast Pro 2 Samarinda Rabu, 4 Febuari 2026.
Ia menjelaskan, konsep ini berbeda dengan mendongeng. Mendongeng lebih menitikberatkan pada menceritakan kembali kisah fiktif atau cerita lama, sementara read aloud berangkat langsung dari teks bacaan yang dibacakan secara utuh dan interaktif.
Mengusung tagline Read Aloud, Change the World, Hesti menekankan perubahan yang dihasilkan dari kegiatan ini bukanlah sesuatu yang instan. Menurutnya, kebiasaan membacakan nyaring secara rutin dan konsisten akan memberikan pengalaman menyenangkan bagi anak sebagai pendengar.
“Dari pengalaman yang menyenangkan itu, anak mendapatkan pengetahuan, mengembangkan imajinasi lewat ilustrasi, membangun ikatan emosional dengan pembaca, hingga melatih kemampuan berpikir kritis,” katanya, menjelaskan.
Hesti menambahkan, manfaat read aloud tidak hanya terbatas pada literasi membaca dan menulis. Kegiatan ini juga berkontribusi pada penguatan berbagai aspek literasi lain, seperti literasi numerasi, budaya, hingga literasi keuangan, tergantung pada bahan bacaan yang digunakan.
Ia menilai, anak-anak yang terbiasa dibacakan nyaring akan tumbuh menjadi individu dengan pemahaman yang baik, kemampuan literasi yang kuat, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi keliru atau hoaks.
“Mereka akan terbiasa berpikir terstruktur, berjenjang, dan memahami penggunaan bahasa yang baik,” katanya.
Tak hanya berdampak bagi pendengar, read aloud juga memberikan manfaat bagi pembaca. Menurut Hesti, pembaca akan lebih terasah empatinya karena harus memahami emosi yang terkandung dalam cerita, sekaligus meningkatkan keterampilan berbahasa melalui teks yang telah sesuai kaidah ejaan dan tanda baca.
Terkait pelaksanaannya, Hesti menegaskan membacakan nyaring dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa syarat khusus.
“Pada dasarnya, siapa pun yang sudah bisa membaca bisa melakukan read aloud. Namun, untuk mencapai tujuan yang lebih optimal, pelatihan atau workshop bisa membantu, misalnya dalam menggali pesan dari sampul buku, membangun diskusi bermakna, hingga membuat prediksi cerita,” ujarnya.
Hesti juga membagikan pengalamannya bergabung dengan gerakan read aloud sejak 2020. Berawal dari kesadaran pribadi akan pentingnya membaca, kebiasaan tersebut kemudian berkembang seiring perannya sebagai orang tua dan interaksinya dengan lingkungan anak-anak.
“Akhirnya saya bergabung dan terus berjuang bersama teman-teman di komunitas Samarinda Read Aloud sampai sekarang,” ujarnya.
Di Samarinda, komunitas Samarinda Read Aloud aktif mengampanyekan kegiatan membacakan nyaring melalui berbagai program yang disesuaikan dengan momen tertentu, seperti libur sekolah, tantangan bagi anggota, hingga kegiatan akhir pekan. Informasi kegiatan dapat diakses melalui akun Instagram resmi komunitas tersebut.
Hari Membaca Nyaring Sedunia atau World Read Aloud Day diprakarsai oleh LitWorld sejak 16 tahun lalu dan diperingati setiap Rabu pertama pada bulan Februari. Dilansir dari situs National Today, LitWorld merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan dengan fokus pada penguatan literasi, sekaligus mendorong budaya membaca nyaring sebagai upaya membangun kecakapan berbahasa dan berpikir kritis sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....