Disdikbud Samarinda Mantapkan Pembelajaran Bahasa Kutai di Sekolah

  • 10 Des 2025 18:06 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Pemerintah Kota Samarinda mendorong percepatan penerapan pembelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Kutai di seluruh satuan pendidikan negeri dan swasta, menyusul belum optimalnya pelaksanaan program tersebut hingga akhir 2025.

Upaya itu diwujudkan melalui Workshop Optimalisasi Pembelajaran Mulok Bahasa Kutai yang digelar di salah satu hotel di Jalan Ruhui Rahayu, Samarinda Ulu, Rabu (10/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WITA tersebut menjadi langkah strategis pemerintah dalam merawat budaya daerah dan mengembalikan pemahaman generasi muda terhadap sejarah serta kearifan lokal yang berakar pada Kesultanan Kutai. Pemerintah menilai penguatan bahasa daerah merupakan bagian penting dalam membangun identitas Samarinda sebagai kota peradaban.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin, menegaskan kebijakan Mulok Bahasa Kutai adalah amanat langsung dari Wali Kota agar pendidikan tidak tercerabut dari akar budaya daerah.

“Pak Wali selalu mengingatkan bahwa kearifan lokal harus tetap menjadi bagian dari pendidikan kita, karena sejarah Samarinda sangat dekat dengan Kesultanan Kutai,” ujarnya.

Asli menjelaskan, penerapan mulok telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Wali Kota (Perwali). Untuk kebutuhan materi ajar, Disdikbud telah melakukan penyelarasan konten bersama penerbit Yudistira, namun ia menegaskan tidak ada kewajiban bagi sekolah untuk menggunakan penerbit tertentu.

“Keputusan membeli buku dari penerbit mana pun tetap hak sekolah. Tidak ada kewajiban mengarah ke satu penerbit,” katanya.

Ia memastikan pengadaan buku mulok dapat menggunakan dana BOS daerah maupun BOS nasional, sehingga tidak membebani orang tua siswa. Kebijakan ini sekaligus mencegah munculnya asumsi bahwa orang tua harus menanggung biaya buku ajar.

Terkait tenaga pengajar, Asli menilai pembelajaran Bahasa Kutai tidak mensyaratkan latar belakang pendidikan khusus. Yang terpenting adalah kemampuan guru memahami dan mampu mempraktikkan bahasa tersebut saat mengajar.

“Tidak perlu guru dengan pendidikan tertentu. Yang penting mereka memahami Bahasa Kutai dan bisa mengajarkannya dengan baik,” ucapnya.

Asli berharap penerapan mulok ini berjalan efektif agar siswa tidak hanya terpaku pada budaya populer dari luar, melainkan memahami nilai-nilai lokal sebagai bagian dari jati diri mereka.

“Harapannya, anak-anak kita tidak hanya mengenal tren luar. Mereka harus memahami sejarah dan kearifan lokal yang menjadi identitas mereka,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....