Empat Gempa Terkuat yang Pernah Terekam di Dunia

  • 01 Sep 2026 18:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Sejumlah gempa bumi berkekuatan sangat besar pernah mengguncang berbagai wilayah dunia dan tercatat dalam sejarah seismologi.

Gempa tersebut sebagian besar terjadi di kawasan subduksi, ketika satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya dan melepaskan energi dalam jumlah besar.

Gempa berkekuatan ekstrem dapat menimbulkan guncangan hebat serta memicu tsunami, terutama ketika pusat gempa berada di bawah laut.

Mengutip Live Science berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), terdapat sejumlah gempa dengan magnitudo terbesar yang berhasil direkam menggunakan instrumen seismologi.

Gempa Valdivia di Chili pada 22 Mei 1960 menjadi gempa bumi terkuat yang pernah tercatat dengan magnitudo 9,5.

Guncangan tersebut berdampak luas di wilayah selatan Chili dan menyebabkan sekitar 1.655 orang meninggal dunia serta jutaan penduduk kehilangan tempat tinggal.

Gempa yang berlangsung akibat aktivitas subduksi Lempeng Nazca di bawah Lempeng Amerika Selatan itu juga memicu tsunami besar di Samudra Pasifik.

Gelombang tsunami kemudian mencapai sejumlah wilayah, termasuk Hawaii, Jepang, dan Filipina, dengan korban jiwa masing-masing mencapai puluhan hingga lebih dari seratus orang.

Empat tahun kemudian, gempa berkekuatan 9,2 magnitudo mengguncang Prince William Sound, Alaska, pada 27 Maret 1964.

Gempa yang berlangsung sekitar tiga menit tersebut memicu tsunami dan menyebabkan 128 orang meninggal dunia serta kerugian ekonomi sekitar 311 juta dolar AS.

Kawasan Anchorage turut mengalami kerusakan parah akibat tanah longsor dan gangguan terhadap berbagai infrastruktur publik.

Peristiwa tersebut terjadi di zona subduksi yang menjadi batas pertemuan Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara.

Gempa besar kembali terjadi pada 26 Desember 2004 ketika wilayah Sumatra dan Kepulauan Andaman diguncang gempa bermagnitudo 9,1.

Gempa tersebut memicu tsunami dahsyat yang menerjang sedikitnya sepuluh negara dari Asia Tenggara hingga Afrika Timur.

Bencana tersebut menyebabkan hampir 300.000 orang meninggal dunia atau hilang serta membuat sekitar 1,2 juta orang mengungsi.

Banda Aceh menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah akibat tsunami yang datang setelah guncangan gempa.

Gempa terjadi akibat aktivitas subduksi ketika Lempeng India bergerak menunjam ke bawah Lempeng Burma di kawasan dasar Samudra Hindia.

Peristiwa dengan kekuatan serupa kembali terjadi di Jepang pada 11 Maret 2011 ketika gempa bermagnitudo 9,1 mengguncang Tohoku.

Gempa tersebut memicu tsunami besar yang menghantam kawasan pesisir Jepang dan menyebabkan lebih dari 15.700 orang meninggal dunia.

Selain korban jiwa, lebih dari 4.600 orang dinyatakan hilang dan lebih dari 5.300 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan meliputi ratusan ribu bangunan, ribuan ruas jalan, puluhan jembatan, serta sejumlah jalur kereta api.

Dampak paling serius terjadi di PLTN Fukushima Daiichi setelah gempa dan tsunami merusak fasilitas tersebut hingga memicu kecelakaan nuklir besar.

Kerugian ekonomi akibat rangkaian bencana diperkirakan mencapai sekitar 309 miliar dolar AS.

Tsunami dari Jepang juga merambat melintasi Samudra Pasifik hingga mencapai Hawaii, California, dan Kepulauan Galapagos.

Aktivitas gelombang bahkan terdeteksi hingga Antartika dan menyebabkan sejumlah bongkahan es terlepas dari Lapisan Es Sulzberger.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan besarnya potensi energi yang dapat dilepaskan dari aktivitas tektonik di zona subduksi.

Catatan gempa tersebut juga menjadi bagian penting dalam perkembangan pemahaman ilmiah mengenai aktivitas lempeng dan risiko tsunami di berbagai wilayah dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....