Rahasia Adaptasi Ikan Siput di Kedalaman Palung Mariana
- 25 Mar 2026 05:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kedalaman ekstrem Palung Mariana kembali menjadi sorotan dunia ilmu pengetahuan setelah penemuan berbagai spesies ikan unik dengan karakteristik tubuh transparan. Fenomena ini memberikan gambaran baru mengenai ekosistem laut dalam yang selama ini masih menjadi misteri besar bagi peradaban manusia.
Dr. Bruce Mundy, seorang ahli biologi perikanan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mengungkapkan bahwa penemuan ikan dari famili Aphyonidae di kedalaman 2.500 meter merupakan momen bersejarah. Ikan tersebut memiliki ciri khas kulit transparan tanpa sisik serta mata yang tidak memiliki pigmen sama sekali.
Menurut penjelasan Dr. Bruce Mundy yang dikutip melalui ABC News, ini adalah pertama kalinya ikan dalam famili tersebut terlihat dalam keadaan hidup. Penemuan langka ini menyoroti betapa banyak informasi yang masih harus dipelajari manusia tentang samudra luas yang belum tereksplorasi sepenuhnya.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Deep Sea Research pada 15 Oktober 2024 mulai membedah mekanisme molekuler di balik ketahanan ikan tersebut. Para peneliti asal Tiongkok menemukan bahwa spesies Pseudoliparis swirei atau Mariana hadal snailfish melakukan adaptasi genetik yang sangat spesifik.
Laporan ilmiah di ScienceDirect menjelaskan bahwa ikan ini mampu mempertahankan fluiditas membran sel mereka di bawah tekanan air yang sangat tinggi. Cara yang dilakukan adalah dengan meningkatkan proporsi asam lemak tidak jenuh sekaligus mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh mereka secara alami.
Dominasi famili ikan ini di zona 'hadal' atau kedalaman ekstrem juga diperkuat oleh penelitian Mackenzie E. Gerringer yang dipublikasikan melalui National Institutes of Health (NIH). Spesies ini berhasil memecahkan rekor sebagai vertebrata yang ditemukan pada kedalaman antara 6.898 hingga 7.966 meter.
Namun, di balik keunikan adaptasinya, ekosistem laut dalam ini mulai terancam oleh aktivitas manusia di permukaan bumi. National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat melaporkan pada Juni 2025 bahwa kontaminasi mikroplastik telah mencapai titik terdalam di Palung Mariana.
Pihak National Science Foundation mengungkapkan bahwa para peneliti menemukan ribuan butiran plastik bahkan di kedalaman ekstrem tempat spesies unik tersebut tinggal. Hal ini menunjukkan bahwa polusi plastik telah menjadi ancaman global yang menjangkau seluruh lapisan samudra tanpa terkecuali.
Alan Jamieson dari University of Western Australia menyatakan dalam Scientific American bahwa penemuan ikan pada kedalaman 8.336 meter merupakan batas teoretis fisiologi ikan. Menurutnya, hampir mustahil ditemukan ikan yang mampu hidup lebih dalam dari titik tersebut karena keterbatasan biologis.
Di sisi lain, ahli biologi laut dalam MacKenzie Gerringer dari SUNY Geneseo menekankan pentingnya koneksi emosional manusia dengan spesies ini. Melalui National Geographic, ia menjelaskan bahwa banyak organisme laut dalam memiliki estetika yang sangat indah dan sebenarnya sangat 'relatable' dengan manusia.
Eksplorasi menggunakan kapal selam canggih seperti Neptune oleh tim OceanXplorer terus dilakukan untuk mengabadikan makhluk-makhluk transparan ini. Teknologi kamera mutakhir kini digunakan untuk kepentingan riset sekaligus memberikan edukasi visual kepada masyarakat luas mengenai kekayaan bawah laut
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....