Global Recycling Day: Rayakan Praktik Daur Ulang sebagai Sumber Daya Ketujuh
- 18 Mar 2026 07:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Yayasan Daur Ulang Global secara resmi menetapkan praktik daur ulang sebagai 'Sumber Daya Ketujuh' dunia. Penetapan ini bertujuan untuk melestarikan enam sumber daya alam utama bumi yang mencakup air, udara, minyak, gas alam, batu bara, dan mineral.
Melalui situs resminya globalrecyclingday.com, lembaga tersebut menjelaskan bahwa fokus utama gerakan ini adalah mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah. Sampah kini tidak lagi dipandang sebagai kotoran, melainkan aset ekonomi yang berharga bagi keberlangsungan lingkungan hidup di masa depan.
Global Recycling Foundation menekankan pentingnya transisi menuju ekonomi sirkular yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi seluruh negara. Daur ulang menjadi elemen kunci dalam melindungi sumber daya alam yang semakin menipis akibat pola konsumsi manusia yang tidak terkendali.
"Daur ulang adalah bagian kunci dari ekonomi sirkular, yang membantu melindungi sumber daya alam kita," tulis yayasan tersebut dalam laporan resminya. Pihak yayasan menyatakan bahwa pengakuan terhadap 'Sumber Daya Ketujuh' ini merupakan langkah konkret dalam menghadapi krisis iklim global saat ini.
Data dari yayasan tersebut menunjukkan bahwa setiap tahun, penggunaan bahan hasil daur ulang mampu memberikan dampak positif yang sangat signifikan. Praktik ini diklaim berhasil menghemat lebih dari 700 juta ton emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer bumi secara global.
Kondisi ini dipertegas oleh laporan Global Resources Outlook 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) yang menyebut eksploitasi material meningkat tajam. UNEP menyatakan eksploitasi sumber daya alam bertanggung jawab atas lebih dari 90 persen hilangnya keanekaragaman hayati dan tekanan air.
Di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) juga telah menerapkan kebijakan serupa. KLHK menegaskan bahwa pengelolaan sampah saat ini tidak lagi sekadar kumpul-angkut-buang, namun menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Transformasi ini didukung oleh penelitian Dr. Sasmita dalam Journal of Cleaner Production yang menyoroti peran penting sektor informal di negara berkembang. Integrasi bank sampah dan pemulung ke dalam rantai pasok industri merupakan prasyarat mutlak bagi kesuksesan transisi ekonomi sirkular.
Media internasional BBC juga melaporkan bahwa inovasi daur ulang kini telah merambah sektor konstruksi global sebagai solusi krisis material. Kaca dan plastik daur ulang bukan lagi sekadar eksperimen hijau, melainkan telah menjadi substitusi penting dalam rantai pasok bangunan dunia.
Melalui peringatan Global Recycling Day, masyarakat internasional diharapkan mulai menghargai setiap barang bekas sebagai potensi ekonomi yang besar. Langkah kecil dalam mendaur ulang kini diakui sebagai upaya nyata dalam menjaga keselamatan serta kelestarian planet bumi bagi generasi mendatang
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....