IKN Jadi Inspirasi Dunia Dalam Transisi Energi Hijau
- 17 Okt 2025 19:07 WIB
- Samarinda
KBRN, Nusantara : Rasa kagum bercampur keheranan terdengar dari para tamu asing yang berkunjung ke Ibu Kota Nusantara (IKN). “Rasanya seperti fiksi ilmiah, sebuah kota di tengah hutan dan rimba, tapi nyata,” ujar seorang peserta dari Jerman, saat meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) IKN, di kawasan KIPP Nusantara, Kamis (16/10/2025).
Delegasi asal Afrika Selatan, bahkan mengaku ingin menjadi salah satu pembeli pertama rumah baru di IKN. “Indah sekali, dekat dengan istana presiden. Saya dulu hanya melihatnya di YouTube, tidak menyangka pembangunannya sudah sejauh ini,” katanya penuh antusias.
Kekaguman itu muncul dalam kegiatan International Capacity Development Program (ICDP) for Coal Regions in Transition, yang digelar di IKN dengan peserta dari berbagai negara.
Program ini diinisiasi oleh GIZ (German Corporation for International Cooperation) bekerja sama dengan Kementerian ESDM, Bappenas RI, serta difasilitasi oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN).
Sebanyak 43 investor energi hijau dari 11 negara hadir dalam kegiatan ini, membahas peluang kolaborasi dalam tema besar “Just Energy Transition” atau transisi energi yang berkeadilan.
Delegasi dari berbagai negara, mulai dari Afrika Selatan, Kolombia, Mongolia, Chili, Vietnam hingga Kanada, datang untuk belajar langsung tentang konsep pembangunan kota masa depan Indonesia. Mereka disuguhi paparan tentang rencana besar menjadikan Nusantara sebagai kota hijau, cerdas, dan berkelanjutan.
“Bagi kami, datang ke sini adalah kesempatan besar untuk belajar,” ujar Edwin Mametja, Kepala Divisi Perubahan Iklim dan Keanekaragaman Hayati, Pemerintah Daerah Distrik Nkangala, Afrika Selatan.
“Kami di negara asal menghadapi masalah polusi akibat pertambangan. Karena itu, kami ingin tahu bagaimana Indonesia menyeimbangkan pembangunan dengan konservasi lingkungan,” katanya.
BACA JUGA:
OIKN Bersama Forkopimda Tertibkan Tambang Ilegal Bukit Suharto
Delegasi itu juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat tidak tertinggal dalam proses transisi energi.
“Konsep just transition itu soal keadilan. Kami berharap bisa bermitra dan berbagi pengalaman dengan negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa. Hal ini sangat membantu dalam perencanaan kebijakan dan implementasi strategi di tingkat pemerintah daerah.
“Jadi, kita perlu bekerja sama untuk mewujudkan agenda pembangunan berkelanjutan. Kami memiliki banyak target yang harus dicapai, dan kerja sama sangat penting. Itulah mengapa kami datang ke sini”.
Delegasi dari Kolombia, Marita, menyebut Nusantara sebagai contoh luar biasa integrasi perencanaan kota pintar dan berkelanjutan.
“Menurut saya, Nusantara bukan hanya penting bagi Kolombia, tapi juga bagi dunia. Ini proyek yang luar biasa, menunjukkan bagaimana sebuah kota bisa berpikir jauh ke depan menuju masa depan hijau,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Bthann Jones dari International Institute for Sustainable Development (IISD), lembaga yang menjalankan proyek Innovation Regions for Just Energy Transition (EJET).
“Kami akan membagikan contoh dari Nusantara ke audiens global melalui knowledge hub kami. Dunia perlu tahu bagaimana Indonesia membangun kota yang sepenuhnya berorientasi pada keberlanjutan,” katanya.
Dari sisi tuan rumah, Direktur Transformasi Hijau OIKN, Agus Gunawan, memaparkan bahwa saat ini PLTS Nusantara telah memproduksi 50 megawatt listrik hijau, dan sebagian besar digunakan untuk Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Namun, lanjut Agus, pasokan energi hijau itu baru tersedia pada siang hari.
“Malam hari kami masih menggunakan pasokan listrik dari jaringan Kalimantan, yang belum sepenuhnya berasal dari sumber energi terbarukan. Karena itu, ada peluang besar untuk investasi di teknologi penyimpanan energi, baterai, dan hidrogen hijau,” jelasnya.

Agus mengatakan, IKN di Kalimantan Timur dirancang dengan tiga konsep utama yang menjadi fondasi pembangunan kota masa depan Indonesia, yakni smart city, sponge city, dan forest city.
Ketiga konsep tersebut menggambarkan visi IKN sebagai kota yang cerdas, tangguh terhadap perubahan iklim, dan harmonis dengan alam.
“Konsep smart city diterapkan melalui pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola kota. Seluruh sistem pelayanan publik, transportasi, energi, dan keamanan akan terintegrasi secara digital untuk menciptakan efisiensi dan kenyamanan bagi warga,” terangnya.
Selanjutnya, konsep sponge city menekankan pengelolaan air yang berkelanjutan. Kota dirancang agar mampu menyerap, menampung, dan memanfaatkan air hujan secara alami melalui sistem drainase hijau, ruang terbuka biru, dan infrastruktur ramah lingkungan. Prinsip ini penting untuk mencegah banjir, menjaga ketersediaan air tanah, serta mendukung ketahanan lingkungan.
Adapun konsep forest city mencerminkan komitmen IKN sebagai kota di tengah hutan tropis Kalimantan. Sekitar 65 persen wilayah Nusantara akan dipertahankan sebagai kawasan hijau dan hutan lindung, guna menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menjadi paru-paru dunia.
Ketiga konsep tersebut, lanjut Agung tidak hanya menjadikan IKN sebagai kota pemerintahan baru, “tetapi juga model pembangunan berkelanjutan yang menginspirasi dunia, kota yang hidup berdampingan dengan alam, dikelola dengan teknologi cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” lanjut Agung.
OIKN menargetkan dalam waktu dekat akan menambah 200 megawatt kapasitas baru melalui kerja sama dengan investor global.
“Kami berharap para delegasi di sini dapat menyampaikan kepada pemerintah dan mitra di negara masing-masing untuk turut berinvestasi di Nusantara,” ujar Agus.
Delegasi dari Mongolia juga menyampaikan kekagumannya atas pengembangan PLTS di IKN.
“Di negara kami, pagi hari sudah memakai listrik hijau dari tenaga surya, tapi malamnya masih bergantung pada batu bara. Karena itu, kami sangat tertarik pada teknologi penyimpanan energi yang dikembangkan di sini,” ujar Bujinikam Nyamaa, perwakilan asal Mongolia.
Ia menambahkan, teknologi arus laut dan pasang surut yang disebutkan oleh tim OIKN juga bisa menjadi potensi kerja sama antarnegeri.
Kunjungan ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam, tapi juga membuka peluang kerja sama konkret di sektor energi bersih, teknologi cerdas, dan konservasi lingkungan.
“Kami datang dan melihat sendiri apa yang telah dilakukan Indonesia, luar biasa. Nusantara bisa menjadi salah satu kota paling penting di dunia,” ujar Marietta Torro Zuluaga, Penasihat Urusan Internasional, Kementerian Pertambangan dan Energi, Kolombia.
Bagi delegasi dunia tersebut, Nusantara bukan sekadar ibu kota baru. Ia adalah simbol keberanian Indonesia memulai babak baru peradaban, kota yang membuktikan bahwa pembangunan masa depan dapat tumbuh harmonis dengan alam, dari tengah hutan Kalimantan untuk dunia.