Investor China Kucurkan Rp40 Triliun, Kutim Bangun Industri Metanol dari Batu Bara
- 24 Mei 2026 19:55 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kutai timur - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai mempersiapkan Kecamatan Bengalon sebagai kawasan pengembangan industri hilirisasi batu bara menjadi metanol. Proyek strategis tersebut disebut akan digarap investor asal China dengan nilai investasi mencapai Rp40 triliun.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan pemerintah daerah telah lama menyiapkan kawasan industri untuk mendukung pengembangan proyek hilirisasi di wilayah tersebut.
“Ada investor asal China yang siap menanamkan modal sekitar Rp40 triliun untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol. Sedangkan untuk lokasi industrinya sudah lama kami siapkan,” ujar Ardiansyah. Sabtu, 23 Mei 2026.
Menurutnya, arah pembangunan ekonomi Kutim ke depan tidak lagi hanya bergantung pada penjualan bahan mentah hasil tambang. Pemerintah daerah ingin mendorong investasi yang mampu menciptakan nilai tambah serta memberikan dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
Ia menyebut hilirisasi menjadi peluang besar untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru. “Investasi yang masuk harus bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya mengambil sumber daya alam,” katanya.
Ardiansyah menjelaskan, proyek tersebut akan mengolah batu bara melalui proses gasifikasi menjadi metanol. Produk itu nantinya dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai kebutuhan industri, seperti resin, plastik, cat, serat sintetis, pelarut obat-obatan, hingga campuran parfum.
Selain menghasilkan metanol, pengembangan industri tersebut juga membuka peluang konversi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), yang digadang-gadang menjadi alternatif pengganti LPG.
“Gasifikasi batu bara menjadi DME saat ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan impor LPG nasional,” ujarnya. Bagi Kutim yang selama ini dikenal sebagai daerah tambang, hilirisasi batu bara dinilai menjadi langkah penting dalam mengubah pola pembangunan ekonomi daerah.
Jika selama ini batu bara lebih banyak dijual dalam bentuk mentah, maka melalui industri turunan pemerintah berharap tercipta rantai ekonomi baru yang lebih panjang dan berkelanjutan. Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, proyek tersebut juga diproyeksikan mampu membantu mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di daerah.
Rencana hilirisasi ini diperkirakan mampu memproduksi sekitar 1,8 juta ton metanol per tahun dengan kebutuhan pasokan batu bara mencapai 6,5 hingga 7 juta ton per tahun menggunakan batu bara kalori rendah.
Meski menyambut baik masuknya investor besar, Ardiansyah menegaskan seluruh investasi tetap harus mengikuti aturan yang berlaku dan memperhatikan dampak lingkungan. Dia juga meminta perusahaan nantinya memprioritaskan tenaga kerja lokal agar manfaat investasi benar-benar dirasakan masyarakat Kutim. “Seluruh investasi yang masuk harus berjalan sesuai ketentuan, memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberi manfaat bagi masyarakat, dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....