TPA Bekotok Kritis, Kukar Percepat Gerakan Pilah Sampah dari Rumah

  • 27 Mar 2026 16:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Kutai Kartanegara - Ancaman krisis sampah mulai membayangi Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) setempat mencatat kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kian menipis, terutama di TPA Bekotok, Tenggarong, yang kini berada di ambang batas.

Lonjakan volume sampah harian menjadi penyebab utama. Tanpa intervensi serius, kondisi ini berpotensi memicu persoalan lingkungan yang lebih luas.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, menegaskan bahwa solusi tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

“Kunci utamanya ada di rumah tangga. Kalau sampah sudah dipilah sejak awal, beban ke TPS dan TPA bisa ditekan signifikan,” ujarnya, Jumat 27 Maret 2026.

DLHK mendorong perubahan pola pikir masyarakat, dari membuang menjadi mengelola. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dan botol minuman didorong untuk dikumpulkan karena memiliki nilai jual.

Sejumlah langkah konkret pun digencarkan. Mulai dari penguatan gerakan pilah sampah di tingkat RT dan kelurahan, hingga optimalisasi bank sampah sebagai jalur distribusi sampah bernilai ekonomi.

Melalui skema ini, warga dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah ke bank sampah induk maupun unit di lingkungan masing-masing untuk ditukar dengan nilai ekonomi.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga memperkuat infrastruktur dengan membangun fasilitas Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di sejumlah kecamatan. Fasilitas ini diharapkan menjadi ujung tombak pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

“Ini bagian dari target jangka panjang menuju gerakan nol sampah, sejalan dengan visi Kukar Idaman Terbaik,” ujar Tri.

Dengan produksi sampah yang mencapai ratusan ton per hari, DLHK menilai waktu untuk berbenah semakin sempit. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, kapasitas TPA dipastikan tidak akan mampu menampung lonjakan sampah di masa depan.

“Sampah itu bukan masalah kalau dikelola. Justru bisa jadi peluang ekonomi. Tinggal bagaimana kita mengubah kebiasaan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....