Kontingen Indonesia Siap Berlaga di WorldSkills Competition 2026 Shanghai
- 17 Sep 2026 20:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia mematangkan persiapan untuk berlaga pada WorldSkills Competition (WSC) 2026 yang akan digelar di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok. Sebanyak 20 kompetitor dan 17 expert disiapkan untuk mewakili Indonesia dalam ajang kompetensi vokasi tingkat dunia tersebut.
Kontingen Indonesia juga diperkuat technical delegate, technical delegate assistant, pelatih, pendamping, serta tim pendukung lainnya. Para kompetitor berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari murid dan alumni SMK hingga institusi pendidikan serta mitra industri.
Dikutip dari kanal kemendikdasmen.go.id, Kamis 17 September 2026. Persiapan dilakukan secara intensif dan bertahap. Selain memperkuat kemampuan teknis, pembinaan juga mencakup aspek mental, kedisiplinan, fokus, dan presisi. Para kompetitor mengikuti Competition Preparation Week pada Februari 2026 dan selanjutnya menjalani berbagai simulasi yang dirancang menyerupai kondisi kompetisi sebenarnya.
Salah satu kompetitor, Kanya Anggrek Gunawan, alumnus SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, Jawa Tengah, akan mewakili Indonesia pada bidang 3D Game Art. Sejak Februari 2026, ia menjalani pembinaan dan pelatihan untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
“Persiapan yang kami jalani cukup panjang dan banyak hal yang saya pelajari, bukan hanya tentang kompetensi, tetapi juga bagaimana menjaga fokus, disiplin, dan mental dalam menghadapi kompetisi,” ujar Kanya di Jakarta, Selasa 15 September 2026.
Kanya berharap seluruh kompetitor dapat fokus menerapkan kemampuan yang telah dipelajari dan memberikan hasil terbaik bagi Indonesia. Bidang 3D Game Art menjadi tantangan tersendiri karena untuk pertama kalinya diikuti Indonesia dalam WSC.
Sementara itu, kompetitor bidang Auto Body Repair, Dewangga Pratama Putra dari SMK Krian 2 Sidoarjo, Jawa Timur, telah menjalani persiapan sekitar enam bulan bersama mitra industri. Pelatihan dilaksanakan di dua lokasi dengan dukungan peralatan dan lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi.
“Untuk target saya, yang paling utama adalah Gold Medal, tapi yang paling minimum adalah Medal of Excellence,” kata Dewangga.
Keikutsertaan dalam WSC, menurut Dewangga, tidak hanya menjadi kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengembangan kompetensi. Setelah kompetisi, ia berencana membagikan keterampilan dan pengalaman yang diperolehnya kepada adik-adik kelas di sekolah.
Persiapan serupa dilakukan pada bidang Robot Systems Integration. Expert bidang tersebut, Reza Pahlevi, menyampaikan bahwa tim yang didampinginya merupakan juara pertama ASEAN Skills 2025 di Filipina. Menjelang WSC 2026, tim menjalani pelatihan sekitar tiga hingga empat bulan di training center industry.
Reza menilai bidang Robot Systems Integration semakin relevan dengan perkembangan kebutuhan industri. Kemajuan robotik dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menuntut talenta vokasi untuk terus melakukan upskilling dan reskilling.
“Kalau kita tidak meng-upskilling, tidak me-reskilling kita, kita akan ketinggalan zaman, ketinggalan teknologi yang nantinya akan diambil oleh AI dan robotik yang ada di dunia. Jadi, kita harus persiapkan ke era baru yaitu robotik dan AI,” ujarnya.
Ia optimistis tim Indonesia mampu menunjukkan kemampuan terbaik di Shanghai. Meski terdapat keterbatasan dalam penggunaan peralatan yang sama persis dengan perangkat kompetisi, pelatihan terus diarahkan untuk membangun kemampuan adaptasi para kompetitor.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, berharap kontingen Indonesia dapat menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus membawa pulang pengalaman yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan vokasi di tanah air.
Menurut Fajar, keberhasilan dalam kompetisi tidak hanya ditentukan oleh medali yang diraih. Mentalitas, proses pembinaan, pengalaman, serta cara pandang yang dibangun selama mengikuti kompetisi juga menjadi bagian penting dari keberhasilan.
“Juara itu bukan semata-mata kita ranking 1, ranking 2, atau ranking 3, ataupun tidak semata-mata kita meraih medali atau tidak, tetapi itu juara menyangkut soal mentalitas, menyangkut soal cara pandang hidup,” ujarnya.
Fajar berpesan agar seluruh kontingen tetap bangga terhadap proses yang telah dijalani dan memanfaatkan pengalaman di Shanghai untuk memperkuat ekosistem pendidikan serta vokasi di Indonesia. Dengan persiapan yang telah dilakukan, para kompetitor diharapkan mampu tampil optimal sekaligus membawa pengalaman dan pembelajaran baru bagi generasi vokasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....