Kemenkes Pantau Kualitas Udara, 16.759 Kasus ISPA Terdeteksi

  • 10 Sep 2026 12:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat pemantauan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang berdampak pada sejumlah wilayah.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, turun langsung memantau kualitas udara di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu 9 September 2026.

Pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, terutama PM2,5 yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi PM2,5 di sejumlah area luar ruangan masih berada di atas batas aman. Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, konsentrasi PM2,5 tercatat mencapai 63 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sementara batas aman yang digunakan adalah 25 µg/m³.

Wamenkes mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek keselamatan penerbangan dan kesehatan masyarakat perlu dilihat berdasarkan indikator yang berbeda.

“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujar Dante, seperti dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Kamis 10 September 2026.

Menurutnya, penggunaan particulate counter diperlukan untuk mengetahui konsentrasi partikulat berukuran kecil yang tidak selalu dapat terlihat secara kasatmata.

“Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi,” katanya.

Berdasarkan pemantauan Kemenkes pada 8 September 2026, sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya masih mencatat konsentrasi PM2,5 dan PM10 di atas batas aman.

Pengukuran dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) menggunakan Air Quality Detector atau Particulate Counter.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena abu vulkanik mengandung partikulat dengan berbagai ukuran. Partikel halus seperti PM2,5 dapat terhirup hingga ke dalam paru-paru dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Kemenkes mencatat hingga 6 September 2026 terdapat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota.

Dari total kasus tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun, sedangkan 12.988 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun.

Dante menyebut pemantauan Kemenkes menunjukkan kejadian ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada meskipun aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta telah kembali berjalan.

“Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada. Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan,” katanya.

Kemenkes mengimbau masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker, terutama di wilayah yang konsentrasi partikulatnya masih tinggi.

Masyarakat juga diminta mengurangi paparan abu vulkanik dengan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara belum menunjukkan kondisi yang baik.

“Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Dante.

Imbauan khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit tertentu. Kelompok tersebut diminta meminimalkan aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih terdampak abu vulkanik.

Kemenkes akan terus melakukan pemantauan kualitas udara serta perkembangan dampak kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Informasi lebih lanjut terkait kesehatan masyarakat dapat diperoleh melalui Halo Kemenkes di nomor 1500-567 atau melalui surat elektronik kontak@kemkes.go.id.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....