Kementan Dorong Varietas Padi Adaptif Hadapi Kemarau Lebih Awal

  • 16 Mar 2026 16:36 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kementerian Pertanian mendorong para petani memanfaatkan varietas padi adaptif sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan akibat musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada 2026. Upaya ini dilakukan untuk menjaga stabilitas produksi padi nasional di tengah dinamika perubahan iklim.

Dilansir dari laman brmp.kaltimtara, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan pemerintah daerah di berbagai wilayah untuk segera melakukan langkah antisipatif. Langkah tersebut meliputi pemetaan daerah rawan kekeringan, penguatan sistem peringatan dini, serta percepatan tanam di sejumlah sentra produksi padi.

Selain itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi pengelolaan air melalui berbagai metode seperti irigasi, pompanisasi, dan sistem perpipaan. Strategi ini dinilai penting agar ketersediaan air bagi lahan pertanian tetap terjaga selama periode kemarau.

“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Amran dalam rilis Kementerian Pertanian, Sabtu 15 Maret 2026.

Sementara itu, prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami awal musim kemarau lebih cepat pada tahun ini. Wilayah tersebut antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian, terutama di daerah yang bergantung pada curah hujan. Oleh karena itu, langkah mitigasi sejak dini menjadi penting untuk meminimalkan dampak terhadap produksi pangan nasional.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian telah mengembangkan berbagai varietas unggul yang dirancang adaptif terhadap kondisi kekeringan.

“Varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago dirancang agar tetap mampu berproduksi pada kondisi ketersediaan air terbatas. Selain itu, terdapat pula varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang dapat dipanen lebih cepat,” ucap Fadjry.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan varietas adaptif tersebut merupakan bagian dari strategi teknologi pertanian untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi nasional. Dengan penerapan inovasi tersebut, pemerintah berharap produksi tetap stabil meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.

Melalui pengembangan varietas unggul dan penerapan teknologi budidaya yang tepat di tingkat petani, Kementerian Pertanian berupaya memastikan sektor pertanian tetap tangguh menghadapi berbagai kondisi iklim. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....