Haji Mabrur bukan Sekadar Ritual, tetapi Transformasi Akhlak

  • 08 Jun 2026 05:41 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Momentum bulan Zulhijah menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali memahami makna ibadah haji yang sesungguhnya. Banyak yang memiliki impian menunaikan ibadah haji dan berharap hajinya menjadi haji yang mabrur.

Dalam siaran Mutiara Pagi Sabtu 6 Juni 2026, Ustaz Ahmad Yazid Hayatul Maky dari Kementerian Agama Kota Samarinda mengajak masyarakat untuk mendalami implementasi nilai-nilai haji mabrur dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan predikat mabrur tidak hanya diukur dari terpenuhinya rukun dan syarat haji.

"Haji mabrur berasal dari kata al-birr yang berarti kebaikan. Ketika dikaitkan dengan ibadah haji, maka haji mabrur adalah haji yang melahirkan kebaikan yang berlandaskan ketaatan dan penghambaan kepada Allah," kata Ustaz Ahmad Yazid.

Ia menjelaskan dalam bahasa Arab terdapat dua istilah yang sama-sama bermakna baik, yaitu al-khair dan al-birr. Al-khair merujuk pada kebaikan yang bersifat umum dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas. Sementara al-birr adalah kebaikan yang lahir dari ketulusan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt.

Oleh karena itu, ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan kewajiban syariat bagi yang mampu, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan ketakwaan. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah Saw., yang menyatakan bahwa tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga.

"Sehingga haji yang mabrur itu bagaimana orang melaksanakan ibadah haji itu tidak hanya sekedar apa namanya menggugurkan kewajiban syariah, kewajiban agama bagi tentu bagi orang yang sudah berkemampuan untuk melaksanakannya. Namun yang lebih penting, yang lebih mendasar sekali adalah nilai daripada haji itu sendiri," ujarnya.

Ustaz Ahmad Yazid juga menjelaskan tiga hal yang harus dihindari selama pelaksanaan haji, yaitu rafats, fusuq, dan jidal. Rafats diartikan sebagai ucapan atau perilaku yang tidak baik yang muncul dari dalam diri seseorang. Oleh karena itu, jamaah haji dituntut menjaga lisan dan menghindari perkataan yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain.

Sementara fusuq berkaitan dengan sikap dan penyakit hati seperti prasangka buruk, iri hati, maupun berbagai bentuk kefasikan yang dapat mengurangi kualitas ibadah. Sedangkan jidal merujuk pada perdebatan, pertengkaran, atau tindakan yang berpotensi memicu permusuhan dan konflik dengan sesama.

"Ketika seseorang mampu menghindari ketiga hal tersebut, maka akan lahir pribadi yang memiliki nilai al-birr, yaitu pribadi yang baik dan bertakwa kepada Allah," ujarnya.

Apabila nilai-nilai tersebut diterapkan secara konsisten, maka akan lahir pribadi yang santun, berakhlak mulia, serta mampu menciptakan lingkungan yang harmonis dan damai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....