Esensi Kesetaraan Manusia saat Wukuf di Padang Arafah
- 01 Jun 2026 12:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ibadah haji merupakan rangkaian peristiwa penuh pengajaran bagi umat Muslim yang telah ditetapkan Allah pada bulan Zulhijah. Menurut hadist riwayat at-Tarmidzi dan an-Nasai, esensi utama dari ibadah haji itu sendiri adalah pelaksanaan wukuf di Arafah.
Sekretaris Lembaga Pembina Muallaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur, Ustaz Nirhamna Hanif Fadillah, mengatakan kedudukan wukuf di Padang Arafah sangat tinggi bagi yang sedang berhaji. Wukuf menjadi penanda mabrurnya ibadah haji seseorang.
"Maka seyogianya apabila seseorang berhaji, jika dia meninggalkan daripada wukuf di Arafah, maka tidak sah atau tidak sempurna, tidak dikatakan dia seorang yang melaksanakan ibadah haji yang mabrur," kata Ustaz Nirhamna dalam siaran Mutiara Pagi.
Saat wukuf berlangsung, jutaan manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul menjadi satu tanpa sekat. Semua identitas politik, label duniawi, hingga status sosial yang melekat pada manusia seketika melebur di sana.
Tidak ada lagi perbedaan perlakuan antara orang kaya, orang miskin, atasan, maupun bawahan selama berada di padang tersebut. Mulai dari rakyat sipil, aparatur keamanan, hingga level presiden dan raja sekalipun statusnya berubah menjadi sama.
"Ini adalah miniatur daripada contohnya lmahsyar yang akan nanti kita rasakan," ujarnya.
Secara bahasa, kata Arafah sendiri memiliki makna mendalam yang berarti sebuah pengetahuan atau proses mengetahui. Melalui momentum ini, manusia diajak menyadari secara penuh bahwa Allah adalah satu-satunya zat tempat bersandar.
Manusia perlu memahami kelemahan dirinya yang tidak memiliki kekuatan apa-apa tanpa pertolongan sang Pencipta. Oleh karena itu, wukuf di Arafah menjadi simbol kesetaraan umat manusia sekaligus refleksi diri bagi umat Islam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....