Walimatus Safar, Tradisi Syukuran dan Doa jelang Berangkat Haji
- 02 Mei 2026 13:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tradisi walimatus safar atau selamatan sebelum berangkat haji masih terus dilestarikan oleh masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi calon jemaah haji untuk bersyukur sekaligus berpamitan sebelum menunaikan ibadah ke Tanah Suci Makkah.
Walimatus safar umumnya digelar dalam bentuk tasyakuran atau selametan yang dilaksanakan menjelang keberangkatan. Acara tersebut biasanya diisi dengan pembacaan tahlil, tausyiah, doa bersama, hingga ramah tamah dengan para tamu undangan yang hadir. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antara keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar.
Dalam praktiknya, masyarakat secara gotong royong turut membantu persiapan acara. Mulai dari memasak hingga menyiapkan tempat, semua dilakukan bersama sebagai bentuk kebersamaan. Tidak jarang, acara walimatus safar juga dihadiri ratusan hingga ribuan undangan.
Dalam kajian keislaman, tradisi ini dinilai sebagai amalan yang baik selama tidak mengandung unsur berlebih-lebihan. Ulama seperti Syekh Abdullah Al-Faqih dalam kitab Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah No. 47017 menjelaskan bahwa kegiatan seperti ini diperbolehkan, selama tidak memberatkan calon jemaah haji maupun keluarganya.
“Yang terpenting adalah niat untuk bersyukur dan memohon keselamatan, asal tidak memberatkan,” demikian penegasan dalam pandangan tersebut.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur, walimatus safar juga dimaknai sebagai ikhtiar memohon keselamatan selama perjalanan ibadah haji. Doa yang dipanjatkan mencakup keselamatan dalam perjalanan, kesehatan selama di Tanah Suci, hingga kembali ke tanah air dengan selamat.
Secara sosial, tradisi ini memiliki banyak nilai positif. Di antaranya mempererat hubungan silaturahmi, menjadi momen saling memaafkan, serta kesempatan bagi masyarakat untuk turut mendoakan calon jemaah haji agar memperoleh haji yang mabrur.
Tak hanya itu, walimatus safar juga menjadi ajang berbagi. Tuan rumah biasanya menyediakan hidangan bagi para tamu, sementara para undangan membalas dengan doa-doa kebaikan. Dalam beberapa kasus, acara ini bahkan digelar secara besar-besaran dengan menyembelih hewan ternak untuk konsumsi bersama.
Namun demikian, sebagian kalangan mengingatkan agar pelaksanaan tradisi ini tetap dilakukan secara sederhana dan tidak berlebihan. Hal ini penting agar esensi ibadah haji sebagai bentuk ketaatan dan kesederhanaan tetap terjaga.
Rois Syuriah PCNU Kota Samarinda, Moh. Mahrus, mengatakan walimatus safar pada dasarnya merupakan tradisi yang baik karena mengandung nilai doa dan kebersamaan.
“Tradisi ini bagus selama diniatkan untuk doa dan mempererat silaturahmi. tidak jarang, tradisi ini dapat meningkatkan kesiapan spiritual calon jamaah jelang menunaikan ibadah haji,” ujarnya. Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia menambahkan, momentum walimatus safar seharusnya dimanfaatkan untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memohon ridha Allah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Hingga kini, tradisi walimatus safar tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, sebagai simbol kebersamaan, doa, dan harapan akan perjalanan ibadah yang lancar serta penuh berkah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....