Jejak Keluarga Ibrahim dalam Pengorbanan dan Ketaatan
- 31 Mei 2025 21:11 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Ketika bulan Zulhijah tiba, umat Islam diingatkan kembali pada sebuah kisah agung yang mengajarkan arti pengorbanan sejati, ketaatan mutlak, dan kemuliaan keluarga—yaitu kisah keluarga Nabi Ibrahim AS. Dalam sebuah narasi spiritual yang begitu menggetarkan, Nabi Ibrahim diuji dengan perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail.
Namun, yang lebih mengejutkan bukan hanya perintah itu, melainkan respons Ismail: “Wahai Ayahku, laksanakanlah perintah Allah. Insya Allah, engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Teladan Keluarga Pilihan
Al-Qur'an mencatat keluarga Nabi Ibrahim sebagai sosok teladan, atau uswatun hasanah, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Mumtahanah (60:4,6). Mereka adalah contoh nyata keluarga yang:
Taat mutlak kepada Allah (qanitin lillah),
Menjaga kemurnian tauhid (lam yakun minal musyrikin),
Senantiasa bersyukur (syakiran li’an’umih),
Sabar dan penuh kasih dalam menghadapi ujian berat.
Ust. Machnun Uzni, S.I.Kom (Founder Sahabat Misykat Indonesia), dalam program Hikmah Pagi Pro 4 RRI Samarinda menyampaikan, keteladanan ini patut menjadi cermin bagi keluarga Muslim masa kini yang kerap diguncang oleh tantangan zaman dan kehilangan arah dalam mendidik generasi.
Makna Kurban yang Lebih Dalam
Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Itu hanyalah simbol. Yang utama adalah menyembelih ego, hawa nafsu, dan cinta dunia yang berlebihan. Inilah hakikat kurban: memurnikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hajj (22:37):
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
Dalam konteks modern, Ismail dalam hidup kita bisa berwujud harta, jabatan, waktu, bahkan kenyamanan pribadi. Mampukah kita mengorbankannya saat Allah memintanya?
Kurban Tak Harus dengan Kambing
Bagi yang belum mampu berkurban secara syar’i, jangan berkecil hati. Semangat berkorban bisa dimulai dari hal kecil:
Patungan kurban di sekolah atau komunitas,
Menyembelih ayam untuk berbagi,
Menyisihkan sebagian rezeki untuk fakir miskin.
Hakikatnya, Allah menilai niat dan usaha. Sedikit yang ikhlas lebih baik daripada banyak yang riya.
Keluarga Taat, Dimulai dari Komunikasi
Tausiah ini juga menyoroti pentingnya komunikasi dalam keluarga. Nabi Ibrahim tak memaksa Ismail, melainkan mengajaknya berdiskusi. Sebuah pelajaran besar bagi orang tua masa kini, agar tak hanya memerintah, tapi juga merangkul, mendengar, dan membangun kepercayaan.
Ketika keluarga dibangun atas dasar cinta, iman, dan dialog yang sehat, di sanalah lahir generasi yang taat dan tangguh seperti Ismail.
Penutup: Sambut Iduladha dengan Kesadaran Baru
Iduladha bukan hanya perayaan, tetapi momentum perenungan. Apakah kita siap meneladani Ibrahim dan keluarganya? Sudahkah kita berani berkorban demi Allah? Sudahkah keluarga kita menjadi jalan menuju surga, bukan sekadar tempat tinggal?
Mari sambut Iduladha dengan niat yang lurus, hati yang ikhlas, dan semangat berbagi. Bukan seberapa besar hewan yang disembelih, tapi seberapa besar ego yang berhasil kita kalahkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....