Inflasi Kaltim Januari 2026 Terkendali, Daya Beli Terjaga

  • 03 Feb 2026 10:20 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Inflasi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Januari 2026 tercatat tetap terkendali dan berada pada level rendah secara bulanan. Kondisi ini mencerminkan stabilitas harga sekaligus terjaganya aktivitas ekonomi masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Kaltim pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,04 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2025 yang mencapai 0,71 persen. Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan Kaltim berada pada level 3,76 persen (year on year/yoy), sementara inflasi tahun berjalan tercatat 0,04 persen (year to date/ytd).

Meski inflasi bulanan melandai, inflasi tahunan Kaltim tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada pada level 3,55 persen (yoy). Perbedaan ini mencerminkan dinamika harga komoditas tertentu di daerah yang masih mengalami penyesuaian.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, dilansir dari rilis kaltimprov.go.id, menjelaskan, inflasi Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kenaikan harga emas yang berlanjut di awal tahun menjadi faktor utama pendorong kelompok tersebut.

“Rata-rata harga emas mencapai Rp2.860.000 per gram atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi sebesar 3,17 persen (mtm) dengan andil 0,23 persen,” ujar Jajang dalam keterangan resminya, Selasa, 3 Februari 2026.

Selain itu, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kenaikan permintaan pakaian serta penyesuaian tarif air minum PAM seiring meningkatnya biaya operasional turut memengaruhi pergerakan harga.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dan transportasi. Penurunan harga pangan didukung panen raya sejumlah komoditas strategis seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah di wilayah sentra produksi. Sementara itu, normalisasi tarif angkutan udara pasca periode Nataru serta penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Januari turut memberikan kontribusi positif.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Timur terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Berbagai upaya dilakukan melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat sepanjang 2026.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....