KPK Bawa Pesan Antikorupsi ke tengah Keramaian Samarinda, Kalimantan Timur

  • 29 Agt 2026 16:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Pesan antikorupsi tidak selalu harus disampaikan melalui ruang seminar. Di Samarinda, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memilih mendekati masyarakat melalui permainan, komedi, musik, dan podcast.

Pendekatan itu terlihat dalam Benar-Benar Podcast Live Samarinda di salah satu pusat perbelanjaan terbesar kota Samarinda, Sabtu, 29 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung sejak siang hingga malam dan dirancang dengan sejumlah aktivitas interaktif sebelum memasuki sesi podcast utama.

Di sekitar panggung, pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Mereka antre mengikuti berbagai permainan, mulai dari permainan sasaran, ular tangga integritas, memasukkan gelang berukuran besar ke tiang, hingga permainan olahraga berbasis digital.

Antrean yang terbentuk di sejumlah titik justru memperlihatkan bagaimana isu yang selama ini identik dengan ruang formal dapat menarik perhatian ketika dikemas dalam pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Analis Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sekaligus Penyuluh Antikorupsi KPK RI, Anjar Ariendra, mengatakan pendekatan hiburan dipilih karena pesan antikorupsi perlu hadir di ruang yang dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.

“Kenapa hiburan menjadi media yang KPK gunakan untuk menyebarkan nilai-nilai antikorupsi? Karena dekat dengan masyarakat dan anak muda, sehingga nilai-nilai itu lebih cepat diterima,” kata Anjar.

Analis Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sekaligus Penyuluh Antikorupsi KPK RI, Anjar Ariendra. (Foto: RRI/Niswar Vaughan)

Menurut Anjar, pendekatan tersebut bukan berarti KPK meninggalkan metode edukasi formal. Sebaliknya, kampanye melalui hiburan menjadi salah satu cara memperluas jangkauan pendidikan antikorupsi.

KPK dalam beberapa tahun terakhir memang mengembangkan pendekatan pendidikan dan kampanye publik melalui berbagai medium. Benar-Benar Podcast sendiri merupakan salah satu produk komunikasi KPK yang menggunakan percakapan dan figur publik untuk membawa isu integritas kepada khalayak yang lebih luas.

Rangkaian di Samarinda bahkan tidak hanya mengandalkan podcast. Berdasarkan rancangan kegiatan, pengunjung lebih dulu diajak mengikuti engagement activation, survei digital, registrasi, serta sejumlah permainan seperti Speak Up Challenge, Lanjutin Kalimatnya, Opinion Battle, BYB Challenge, dan Satu Kata Challenge.

Bukan Sekadar Hiburan

Di titik inilah pesan antikorupsi sebenarnya mulai bekerja.

Permainan menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang lebih besar: keberanian menyampaikan pendapat, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, serta kemampuan membedakan tindakan yang benar dan yang mulai dianggap biasa.

Penyuluh Antikorupsi Inspektorat Kota Samarinda, Siti Noor Aini, mengatakan pendekatan serupa juga diterapkan melalui program Inspek Corner. Salah satu permainannya adalah ular tangga integritas.

Dalam permainan tersebut, peserta tidak sekadar melempar dadu. Mereka diajak mengenali sembilan nilai antikorupsi, yakni jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras.

“Ular tangga ini mengajak masyarakat belajar tentang sembilan nilai antikorupsi, tetapi menggunakan permainan. Jadi mereka bisa belajar tentang contoh perilaku jujur, disiplin, berani dan nilai lainnya dengan cara yang lebih menyenangkan,” ujar Siti.

Penyuluh Antikorupsi Inspektorat Kota Samarinda, Siti Noor Aini. (Foto: RRI/Niswar Vaughan)

Pendekatan ini menjadi relevan karena pendidikan antikorupsi tidak hanya berbicara mengenai tindak pidana setelah terjadi. Yang lebih mendasar adalah membangun kebiasaan sebelum seseorang berhadapan dengan peluang melakukan penyimpangan.

KPK sendiri menempatkan pendidikan, pencegahan, dan penindakan sebagai bagian dari strategi pemberantasan korupsi. Dalam penguatan jejaring penyuluh antikorupsi, KPK juga menekankan bahwa edukasi dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian masyarakat.

Masalah Integritas Tidak Berjarak dari Kehidupan Sehari-hari

Persoalannya, membangun budaya integritas bukan pekerjaan sederhana.

Hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK 2025 secara nasional menunjukkan indeks integritas pemerintah daerah berada pada angka 71,33, masih dalam kategori rentan karena berada di bawah 73. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah sosialisasi antikorupsi dengan skor 63,64.

Angka tersebut tidak dapat dibaca sebagai skor khusus Pemerintah Kota Samarinda. Namun, data nasional itu menunjukkan bahwa penguatan pendidikan dan sosialisasi antikorupsi masih menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah daerah.

Pemerintah Kota Samarinda sendiri sebelumnya menyebut hasil SPI sebagai dasar untuk memperkuat sejumlah aspek tata kelola. Hasil SPI 2024 yang menjadi bahan tindak lanjut menyoroti antara lain risiko penyalahgunaan fasilitas kantor, konflik kepentingan, serta pengelolaan perjalanan dinas dan honorarium. Pemkot kemudian merancang sejumlah langkah, termasuk sosialisasi antikorupsi di OPD, audit perjalanan dinas dan honorarium, serta penguatan integritas dalam pengadaan barang dan jasa.

Karena itu, kampanye antikorupsi di ruang publik memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengumpulkan massa.

Ia menjadi pengingat bahwa integritas juga berkaitan dengan keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Datang tepat waktu, tidak menyontek, tidak menggunakan fasilitas untuk kepentingan pribadi, menolak pemberian yang tidak semestinya, berani mengatakan tidak terhadap penyimpangan, hingga berani melaporkan sesuatu yang dianggap salah.

Ketika Anak Muda Mulai Bertanya

Dua pelajar SMA Negeri 10 Samarinda, Muhammad Asyam Haidar dan Stefano Bagas Fabregas, menjadi bagian dari pengunjung yang mengikuti kegiatan tersebut.

Bagi mereka, pengalaman mengikuti kegiatan antikorupsi dengan permainan membuat isu tersebut terasa lebih dekat dibandingkan sekadar mendengarkan materi.

Asyam mengatakan kegiatan tersebut membuatnya memahami bahwa pencegahan korupsi tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

“Kami berharap bisa belajar bagaimana mencegah korupsi. Mungkin dimulai dari hal sederhana, seperti lebih disiplin, menghargai waktu, dan bertanggung jawab dalam melakukan sesuatu,” katanya.

Dua pelajar SMA Negeri 10 Samarinda, Muhammad Asyam Haidar (kanan) dan Stefano Bagas Fabregas saat diwawancarai RRI. (Foto: Niswar Vaughan)

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut. Berdasarkan keterangan Anjar, keberhasilan kampanye tidak semata-mata diukur dari banyaknya orang yang datang atau mengikuti permainan.

Yang lebih penting adalah apakah setelah kegiatan itu ada perubahan sikap.

“Indikatornya adalah kami berharap anak-anak muda melakukan sesuatu setelah ini. Entah mereka bisa speak up, punya sikap untuk dirinya sendiri, atau mulai bertindak jujur, disiplin, dan bertanggung jawab,” jelas Anjar.

Dari Mall, Pesan Dibawa Pulang

Pemilihan pusat perbelanjaan sebagai lokasi kegiatan juga bukan tanpa alasan.

Menurut Anjar, lembaga pendidikan, pemerintahan dan institusi publik telah menjadi ruang edukasi antikorupsi. Mall memberikan karakter berbeda karena masyarakat datang bukan khusus untuk mengikuti kegiatan antikorupsi.

Mereka bisa saja awalnya datang untuk berbelanja, makan atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, ketika melihat keramaian, permainan, dan panggung, mereka kemudian tertarik mendekat.

Model seperti ini membuat kampanye antikorupsi bergerak dari pola komunikasi satu arah menjadi interaksi langsung.

Rangkaian acara bahkan dilanjutkan dengan Operasi Tangkap Tawa, yang menghadirkan 13 komika, sebelum memasuki sesi Benar-Benar Podcast Live bersama Andovi Da Lopez, Jovial Da Lopez, Fia, Cing Abdel dan Zainul Arifin. Sesi podcast juga menyediakan ruang tanya jawab dengan penonton.

Bagi KPK, pendekatan seperti ini menjadi cara untuk membuat pembicaraan tentang korupsi tidak selalu terdengar berat, tetapi tetap menyentuh persoalan yang serius.

Sebab pada akhirnya, pemberantasan korupsi bukan hanya tentang menangkap orang yang melakukan korupsi. Pekerjaan yang jauh lebih panjang adalah memastikan masyarakat memiliki keberanian untuk menjaga integritas sebelum penyimpangan terjadi.

Dan dari sebuah permainan sederhana di tengah keramaian mall, pesan itu mulai ditanamkan: korupsi tidak dimulai ketika uang negara hilang dalam jumlah besar, tetapi bisa berawal ketika seseorang pertama kali membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah.



google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....