Malam Akhir Juni Semakin Memesona dengan Kemunculan Strawberry Moon
- 29 Jun 2026 21:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Fenomena Bulan Strawberry kembali menghiasi langit dan menjadi momen yang dinantikan para pencinta astronomi maupun masyarakat umum. Bulan purnama yang terjadi setiap Juni ini menawarkan pemandangan yang indah dan dapat disaksikan tanpa menggunakan teleskop.
Bulan Strawberry atau Strawberry Moon merupakan sebutan untuk bulan purnama yang muncul pada bulan Juni setiap tahun. Dalam berbagai budaya, fenomena ini juga dikenal dengan nama Rose Moon, Honey Moon, atau Mead Moon. Penamaan tersebut tidak berkaitan dengan warna Bulan, melainkan berasal dari tradisi dan budaya masyarakat yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Dikutip dari akun media sosial AH Quote, fenomena Strawberry Moon dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia apabila kondisi cuaca cerah. Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah pada malam 29 dan 30 Juni 2026, sesaat setelah Matahari terbenam.
Meski disebut Strawberry Moon, Bulan tidak akan tampak berwarna merah muda. Nama tersebut berasal dari suku asli Amerika Utara yang menjadikan bulan purnama pada Juni sebagai penanda dimulainya musim panen stroberi. Karena itu, istilah Strawberry Moon lebih merujuk pada tradisi budaya daripada perubahan warna Bulan.
Di Indonesia, kondisi langit yang cerah menjadi faktor utama agar masyarakat dapat menikmati fenomena ini secara maksimal. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang karena cahaya bulan purnama cukup terang tanpa memerlukan alat bantu seperti teleskop.
Walaupun tidak berwarna merah muda, Bulan terkadang tampak kekuningan, jingga, bahkan kemerahan ketika baru terbit di ufuk timur. Warna tersebut merupakan efek atmosfer Bumi yang menyaring cahaya saat Bulan berada dekat dengan garis horizon. Fenomena ini sering menghasilkan pemandangan yang memukau, terutama jika dipadukan dengan lanskap pegunungan, pantai, maupun bangunan ikonik.
Fenomena Bulan Strawberry juga menjadi momen favorit bagi para fotografer. Cahaya bulan yang terang serta ukurannya yang tampak lebih besar ketika berada di dekat horizon menciptakan ilusi optik yang menarik untuk diabadikan. Dengan kamera maupun ponsel yang memiliki fitur mode malam, masyarakat dapat menghasilkan foto Bulan yang lebih menarik, terutama jika dipadukan dengan objek di sekitarnya sebagai latar depan.
Selain menghadirkan panorama yang indah, Bulan Strawberry juga menjadi sarana edukasi mengenai astronomi. Fenomena ini mengingatkan bahwa berbagai nama bulan purnama berasal dari budaya kuno yang menggunakan perubahan musim sebagai pedoman bercocok tanam dan berburu. Hingga kini, penamaan tersebut masih digunakan untuk membedakan bulan purnama yang terjadi setiap bulan sepanjang tahun.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan Bulan Strawberry pada 29 dan 30 Juni 2026, disarankan memilih lokasi yang minim polusi cahaya, seperti area terbuka, perbukitan, atau pantai. Pastikan cuaca dalam kondisi cerah dan datanglah beberapa saat setelah Matahari terbenam agar dapat melihat Bulan muncul dari ufuk timur.
Fenomena astronomi ini menjadi pengingat akan keindahan alam semesta yang dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa memerlukan peralatan khusus. (Ayu)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....