Film Ghost In The Cell Karya Joko Anwar Pecahkan Rekor Penjualan ke 86 Negara
- 06 Mei 2026 13:14 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Film Ghost In The Cell merupakan karya imajinatif bergenre fiksi ilmiah garapan sutradara Joko Anwar. Film ini menghadirkan pendekatan unik dengan memadukan teknologi futuristik dan eksplorasi psikologis yang mendalam.
Sebagai sutradara yang dikenal dengan gaya penceritaan atmosferik, Joko Anwar menghadirkan nuansa gelap dan penuh misteri dalam film tersebut.
Dikutip dari akun Instagram @jokoanwar, film ini berlatar di Lapas Labuhan Angsana. Para narapidana hidup dalam tekanan setiap hari, mulai dari penindasan oleh pejabat lapas hingga permusuhan dan kekerasan antartahanan.
Suatu hari, seorang napi baru masuk ke dalam penjara. Setelah itu, satu per satu tahanan meninggal dengan cara mengerikan. Para napi kemudian mengetahui adanya sosok hantu yang membunuh orang-orang dengan aura atau energi paling negatif.
Kondisi tersebut membuat para tahanan berlomba-lomba berbuat baik demi menjaga aura tetap positif. Namun, hal itu tidak mudah dilakukan di lingkungan penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga akhirnya, mereka menyadari satu hal yang tampaknya mustahil, yakni bersatu melawan penindasan, bahkan menghadapi hantu sekalipun demi bertahan hidup.
Film ini juga menyimpan makna tersembunyi melalui nomor para tahanan. Nomor 7226 yang diperankan Yoga Pratama sebagai Six diambil dari Surah Al-Jinn ayat 26 yang berbunyi, “Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu".
Sementara itu, nomor tahanan 2239 yang diperankan Morgan Oey sebagai Bimo merujuk pada Matius 22:39, yakni, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".
Nomor tahanan 5811 yang diperankan Lukman Sardi sebagai Pendi merujuk pada Surah Al-Mujadilah ayat 11 tentang pentingnya adab, ilmu, dan derajat orang beriman.
Sedangkan nomor 1919 yang diperankan Endy Arfian sebagai Dimas disebut melambangkan akhir sebuah siklus dan awal yang baru.
Kini, Ghost In The Cell memegang rekor sebagai film Indonesia yang terjual ke negara terbanyak sepanjang sejarah perfilman nasional, yakni mencapai 86 negara bahkan sebelum tayang di Indonesia.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai distributor internasional. Distributor asal Amerika Serikat menyebut film ini “sangat menghibur dan menghadirkan elemen gore yang tepat.” Sementara distributor Jerman, Plaion Pictures, menyatakan bahwa film tersebut merupakan karya sinematik yang luar biasa.
Tidak hanya itu, distributor Asia Purple Plan juga memuji gaya penyutradaraan Joko Anwar yang dinilai memiliki ciri khas kuat dan berbeda dari film bergenre serupa.
Secara keseluruhan, Ghost In The Cell dinilai sebagai karya yang berani dan menggugah pemikiran. Dengan cerita kompleks, visual memukau, serta pesan mendalam, film ini meninggalkan kesan kuat bagi penontonnya. Joko Anwar kembali menunjukkan kemampuannya mengolah genre dengan cara yang unik dan penuh visi. (Ayu)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....