Film Suster Maria Angkat Urban Legend Kaltim Jadi Identitas Budaya Lokal
- 01 Mei 2026 18:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Kisah urban legend yang berkembang di Kalimantan Timur mulai dilirik sebagai bagian dari kekuatan budaya lokal yang potensial diangkat ke industri perfilman nasional. Cerita tersebut kini tengah dipersiapkan menjadi film horor berjudul Suster Maria, yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membawa narasi sejarah dan kearifan lokal ke layar lebar.
Sutradara Syaiful HR menyampaikan bahwa pemilihan genre horor dilakukan dengan mempertimbangkan tren industri perfilman Indonesia yang saat ini didominasi film bertema serupa. Namun, ia menegaskan bahwa proyek ini tidak semata mengikuti pasar, melainkan mengedepankan kekuatan cerita lokal sebagai identitas utama.
“Kalau kita lihat sekarang, film horor di Indonesia lagi sangat diminati. Hampir semua yang tayang mendapat respons bagus dari penonton,” ujarnya, Rabu 29 April 2026.
Menurutnya, kisah Suster Maria memiliki nilai lebih karena memadukan unsur misteri dengan latar sejarah, khususnya pada masa pendudukan Jepang. Narasi ini dinilai mampu memperkuat daya tarik cerita sekaligus menjadi medium pelestarian budaya lisan yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
“Saya melihat Suster Maria ini punya cerita yang kuat,” katanya.
Dalam proses kreatif, tim produksi berupaya menjaga keaslian cerita dengan menghadirkan pendekatan visual, kostum, serta suasana yang mencerminkan karakter lokal Kalimantan Timur. Hal ini menjadi penting agar film tidak kehilangan identitas budaya di tengah maraknya produksi film horor dengan pola serupa.
Film ini diproduksi oleh PT Dimensi Cinema Indonesia dengan dukungan produser eksekutif Kartina Andajani. Saat ini, proyek masih berada pada tahap awal, meliputi pengembangan naskah, pembentukan tim produksi, hingga persiapan teknis lainnya.
Syaiful menjelaskan, proses seleksi pemain juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas cerita. Tim produksi sebelumnya telah menggelar open casting di Samarinda dan Balikpapan untuk menjaring talenta lokal yang dinilai memiliki potensi besar di dunia seni peran.
“Dalam film itu bukan sekadar bisa akting, yang penting adalah kecocokan karakter dengan cerita,” ucapnya.
Lebih jauh, proyek ini juga membawa misi untuk mendorong pertumbuhan industri kreatif di daerah. Selama ini, menurut Syaiful, banyak talenta lokal Kalimantan Timur yang memiliki kemampuan, namun belum mendapatkan akses luas ke industri perfilman nasional.
“Tinggal bagaimana kita membuka jalannya,” katanya.
Pengangkatan cerita urban legend seperti Suster Maria menjadi film dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada publik yang lebih luas. Selain menjaga eksistensi cerita rakyat, pendekatan ini juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis budaya di daerah.
Diharapkan, film ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi karya-karya lokal lainnya untuk tampil di industri perfilman nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....