Mother Tongue: Identitas Dua Dunia

  • 28 Feb 2026 19:54 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penyanyi dan penulis lagu Stephanie Poetri kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul “Mother Tongue”. Lagu ini lahir dari refleksi personal tentang identitas dan bahasa. Karya tersebut menjadi ruang pengakuan diri sekaligus jembatan dialog bagi mereka yang tumbuh di antara dua budaya.

“Lagu ‘Mother Tongue’ awalnya ditulis tentang pengalamanku sebagai seseorang yang bilingual dan merasa aku tidak fasih dalam kedua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris,” ujar Stephanie Poetri. Ia menjelaskan bahwa lagu tersebut kemudian bertransformasi menjadi kisah tentang tantangan sebagai individu yang berasal dari dua dunia namun tidak sepenuhnya merasa diterima di keduanya.

Dalam proses kreatifnya, Stephanie kerap berdiskusi dan menghabiskan waktu bersama Dorothy Chan dari grup sundial. Keduanya memiliki latar belakang yang serupa sehingga percakapan yang terjalin terasa relevan dan mendalam.

“Aku pun mengajaknya untuk berkolaborasi di lagu ini,” kata Stephanie. Ia mengungkapkan bahwa meskipun mereka pernah menulis lagu bersama sebelumnya, “Mother Tongue” menjadi proyek pertama yang benar-benar merepresentasikan pengalaman pribadi masing-masing.

Bagi Dorothy Chan, lagu ini menghadirkan resonansi emosional yang kuat. “Saat Steph pertama kali menunjukkan lagu ‘Mother Tongue’, aku merasa sangat tergerak dan terhubung dengan lagu tersebut, meskipun liriknya sangat personal baginya,” ujarnya.

Dorothy juga membagikan pengalamannya tumbuh di Hong Kong sebelum melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Ia menghadapi tantangan serupa terkait identitas, seperti merasa kurang dianggap sebagai orang Asia atau kurang dianggap sebagai orang Amerika.

“Aku sangat senang saat ia mengajakku menyumbang satu verse lagu ini dan sangat bersyukur ia ingin aku menjadi bagian dari lagu istimewa ini,” tutur Dorothy. Pernyataan tersebut memperlihatkan kedekatan emosional yang terbangun melalui kolaborasi ini.

Melalui “Mother Tongue”, Stephanie Poetri dan Dorothy Chan menghadirkan karya yang jujur dan reflektif tentang bahasa, penerimaan, serta pencarian jati diri. Lagu ini menjadi representasi suara generasi diaspora yang berupaya merangkul kompleksitas identitas di tengah pertemuan budaya yang beragam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....