Sumbu Tengah Bedah Film Kuyank, Urban Legend Kalimantan

  • 28 Jan 2026 14:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Sumbu Tengah, entitas literasi publik yang selama ini memfasilitasi forum diskusi isu-isu sosial dan budaya, kembali menggelar pertemuan edisi ke-9. Pada edisi kali ini, Sumbu Tengah mengangkat tema yang berbeda dari sebelumnya, yakni tentang perfilman.

Diskusi itu bertajuk “Urban Legend Kalimantan dalam Industri Film Nasional” yang digelar di Gedung Masjaya Universitas Mulawarman (Unmul) Hub, Jl. Sambaliung, Samarinda Utara, Kota Samarinda, Selasa, 27 Januari 2026. 

Dalam diskusi ini, peserta diajak ngobrol bareng film Kuyank bersama para sineas. Mereka adalah sutradara film Kuyank, Johansyah Jumberan, serta para pelakon, yaitu Jolene Marie yang memerankan sosok kuyank, Dayu Wijanto sebagai Hj. Saidah, dan Daulat yang berperan sebagai ayah Badri, tokoh utama pria dalam film tersebut.

Sang sutradara yang akrab disapa Bang Jo, mengungkapkan alasannya memilih kuyang sebagai urban legend Kalimantan yang diangkat ke layar lebar. "Dari sabang sampai merauke kuyang itu dikenal, dan orang-orang memiliki bayangan yang sama tentang kuyang, yaitu kepala tanpa organ tubuh," ucap Johansyah.

Menariknya, film Kuyank tidak hanya menampilkan satu urban legend. Johansyah mengungkapkan, dalam film ini, penonton juga akan menemukan kemunculan hantu banyu.

Hantu ini, kata Johansyah, tidak hanya dikenal di Kalimantan, tetapi juga wilayah lain seperti Palembang. "Akan sediki ada time travel Sungai Musi dan Sungai Mahakam. Ini adalah bagian dari cerita lain dalam universe yang bisa dinantikan di film-film selanjutnya," ucapnya.

Sutradara film Kuyank, Johansyah Jumberan saat nonton bareng sebelum penayangan perdana Kuyank, Selasa, 27 Januari 2026. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Sementara itu, pemeran Kuyank, Jolene Marie, mengakui tantangan besar dalam memerankan sosok mistis yang selama ini hanya bisa dibayangkan.

Ia menyebut perannya banyak bergantung pada imajinasi, karena sebagian besar adegan menggunakan teknologi Computer-Generated Imagery (CGI), sehingga dibutuhkan pendalaman karakter yang berbeda dibandingkan film drama.

"Kuyank 80 persen menggunakan CGI. Dibutuhkan imajinasi yang lebih banyak, dibandingkan kalau kita main drama yang mana kita bisa manfaatkan semua indra kita, tapi tidak dengan CGI. Makanya itu lebih sulit, butuh imajinasi lebih," kata Jolene.

Selain sineas film Kuyank, hadir pula sebagai pembicara, yaitu sejarawan publik sekaligus salah satu co-founder Sumbu Tengah, Muhammad Sarip. Ia mengungkapkan dukungannya terhadap film Kuyank meski sebagai akademisi dirinya memiliki perspektif tersendiri terhadap hal mistis.

"Metode penelitian sejarah yang harus mengedepankan aspek ilmiah, ada bukti autentik, verifikasi data, peristiwa dan sebagainya," ujarnya, menjelaskan.

Namun, menurut Sarip cerita horor dan legenda merupakan bentuk tradisi lisan yang sudah menjadi bagian dari warisan budaya.  "Ada kebijaksanaan di situ yang bisa diambil sebagai edukasi untuk generasi kini dan masa mendatang," ujarnya.

Karena itu, ia menyambut baik film Kuyank. Ia menilai keunggulan sinema produksi Dari Hati Film (DHF) ini terletak pada alur ceritanya yang tidak mengikuti pola mainstream.

Film ini, kata Sarip, tak hanya sekadar menampilkan teror mistis, tetapi juga menyelipkan unsur kebudayaan lokal.

"Tidak, misalnya, sekelompok orang datang ke tempat terpencil, lalu ada teror hantu, tapi ada unsur kebudayaan lokal, seperti upacara adat, lomba balap perahu di sungai," ujar Sarip.

Di samping mempromosikan budaya Kalimantan, Sarip mengungkapkan dirinya ingin film ini menjadi motivasi bagi sineas lokal untuk terus berkarya hingga menembus pasar yang lebih luas.

Sejarawan publik sekaligus salah satu co-founder Sumbu Tengah, Muhammad Sarip. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Ia juga berharap tema horor mistis yang diangkat dalam film ini tidak membentuk stereotip bahwa Kalimantan adalah wilayah yang primitif. Menurutnya, film ini harus dipahami sebagai hiburan semata, tanpa menimbulkan kesan masyarakat Kalimantan masih bergantung pada hal-hal magis.

"Semoga tidak membuat masyarakat luar Kalimantan berfantasi bahwa kita tidak punya edukasi, masih percaya hal mistis," kata Sarip.

Kegiatan ini diinisiasi langsung oleh Rusdi, founder Sumbu Tengah, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem dialog dan pertukaran gagasan lintas latar belakang budaya dan komunitas.

Menurut Rusdi, Sumbu Tengah sejak awal dirancang sebagai wadah kolaboratif yang membuka ruang partisipasi publik dalam membaca realitas sosial dan kebudayaan secara lebih inklusif. Melalui kegiatan ini, Sumbu Tengah ingin menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai penyelenggara acara, tetapi sebagai penggerak ruang diskusi yang berkelanjutan.

“Event ini adalah bagian dari visi Sumbu Tengah untuk menghadirkan ruang bersama tempat ide, ekspresi, dan pengalaman bisa saling bertemu,” ujar Rusdi.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dan partisipan dari berbagai latar belakang, yang turut memperkaya diskusi dan dinamika acara. Kehadiran para tokoh ini ditempatkan sebagai bagian dari kolaborasi, sejalan dengan semangat Sumbu Tengah yang menempatkan proses dan ruang dialog sebagai fokus utama.

Dengan konsistensi menggelar kegiatan semacam ini, Rusdi berharap Sumbu Tengah dapat terus menjadi simpul yang mempertemukan gagasan, komunitas, dan praktik budaya dalam konteks yang relevan dengan perkembangan zaman.

Usai diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan nonton bareng sebelum penayangan perdana film Kuyank pada Kamis, 29 Januari 2026 di seluruh Indonesia.

Film Kuyank sendiri mengisahkan peristiwa tujuh tahun sebelum gerbang Saranjana terbuka. Penonton diajak mengikuti kisah Rusmiati, seorang gadis kampung yang nekat menikah dengan Badri, tetapi terjerumus ke dalam ilmu hitam kuyang akibat tekanan mertua karena tak kunjung dikaruniai anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....