Mantau dan Identitas Rasa Balikpapan

  • 02 Des 2025 07:11 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Balikpapan dikenal sebagai kota pesisir dengan ragam kuliner laut yang melimpah. Namun, di antara kepiting yang terkenal dan berbagai hidangan ikan segar, ada satu makanan yang justru mencuri perhatian banyak orang: mantau. Roti lembut khas Tiongkok ini mengalami perjalanan panjang hingga akhirnya bertransformasi menjadi sajian yang sangat lekat dengan identitas cita rasa Balikpapan.

Bagi sebagian masyarakat luar Balikpapan, mantau bahkan menjadi jawaban spontan saat ditanya tentang makanan khas kota ini. Seorang warga bernama Habibi mengatakan, “Balikpapan makanan khasnya mantau, ikan, kepiting.” Jawaban tersebut memperlihatkan bagaimana mantau tidak hanya populer, tetapi juga sudah melekat dalam ingatan banyak orang yang pernah mencicipinya.

Daya tarik mantau terletak pada perpaduan teksturnya serta pasangan lauknya yang khas. Habibi juga mengatakan, “Aku biasa kalau makan mantau di Balikpapan, mantau garing, ada daging lada hitam, jadi nyemil tapi kenyang.” katanya. Perpaduan mantau goreng yang renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam dengan daging sapi lada hitam yang wangi membuatnya menjadi kudapan sederhana yang mudah disukai siapa saja.

Secara sejarah kuliner, perjalanan mantau di Balikpapan merupakan hasil akulturasi budaya yang menarik. Pengamat kuliner Febby Rio menjelaskan, “Mantau di Balikpapan akulturasi dari Tiongkok berubah sesuai pasar jadi berisi, jadi sapi lada hitam.” ucapnya.

Teknik memasaknya tetap mempertahankan sentuhan Tiongkok, tetapi cita rasanya berkembang mengikuti kultur Dayak, Banjar, Jawa, dan masyarakat urban Balikpapan. Mantau pun tidak lagi sekadar roti kukus, melainkan cermin pertemuan berbagai budaya.

Jika dilihat dari perspektif gastronomi, mantau memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar makanan pendamping. Febby Rio mengatakan, “Kalau dibawa ke arah gastronomi, mantau itu ada tradisi, budaya, ekonomi.” ujarnya. Mantau memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk berkembang, menjadi ikon rasa, dan menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi kuliner daerah. Dengan demikian, mantau berperan dalam membangun identitas kuliner Balikpapan.

Menariknya, meskipun Balikpapan tidak memiliki satu makanan tradisional yang benar-benar berasal dari daerah tersebut, kreativitas warganya dalam mengadaptasi mantau justru menciptakan ciri khas baru. “Gak papa suatu daerah gak punya makanan khas… yang penting kalau ke Balikpapan mau beli apa,” kata Febby Rio. Mantau menjadi jawaban sederhana yang mudah dinikmati dan selalu membuat wisatawan penasaran untuk kembali mencicipinya.

Pada akhirnya, mantau Balikpapan bukan sekadar roti goreng yang disajikan bersama daging lada hitam. Ia adalah pengalaman rasa yang tumbuh dari interaksi budaya, kreativitas kuliner, dan identitas masyarakatnya. Dari dapur-dapur lokal hingga meja-meja kafe, mantau menghubungkan warga, pendatang, hingga wisatawan. Terkadang, pengalaman terbaik dari sebuah kota memang berawal dari gigitan kecil mantau hangat di sore hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....