Tari Tradisional Dayak Jadi Identitas Budaya Kalimantan Timur

  • 13 Sep 2025 11:07 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Seni tari di Kalimantan Timur tidak sekadar hiburan, melainkan cerminan identitas dan sarana melestarikan nilai budaya. Hal itu disampaikan Briza Medina Syakirah dari Yayasan Tari Borneo Etnica kepada rri.co.id, Sabtu (13/9/2025), usai membawakan Kancet Papatai dalam sebuah acara olahraga di Samarinda.

Menurut Briza, Kancet Papatai merupakan tarian perang khas Dayak Kenyah yang bercerita tentang keberanian pemuda dalam memperebutkan hati seorang gadis. Meski latarnya adalah perseteruan, pesan utama tarian ini justru menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan masyarakat. “Nilai yang kita ambil adalah jangan sampai terpecah, apapun yang terjadi kita harus tetap bersatu,” kata Briza.

Ia menjelaskan, pada setiap acara semi formal maupun olahraga, unsur budaya kerap dihadirkan sebagai bagian dari identitas daerah. Selain tarian Dayak, Kalimantan Timur juga memiliki kekayaan seni dari budaya pesisir dan keraton, salah satunya Tari Jepen yang lekat dengan tradisi Kutai. Ketiga pilar budaya itu, menurut Briza, menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis.

Sanggar-sanggar tari di Samarinda, termasuk Yayasan Tari Borneo Etnica, rutin menggelar latihan sesuai agenda pertunjukan. Anggotanya beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga yang masih setia melestarikan budaya. “Kalau ada jadwal pentas, biasanya dalam seminggu kami fokus melatih tarian tersebut,” ucap Briza.

Minat generasi muda terhadap seni tari tradisional dinilai masih kuat. Briza menyebut banyak anak muda lebih memilih menekuni seni budaya ketimbang larut dalam arus budaya asing. “Sejauh yang saya lihat, di lingkungan saya masih banyak penari tradisional seusia saya atau bahkan lebih muda,” katanya.

Pengalaman tampil di berbagai panggung, baik tingkat lokal maupun nasional, juga memberi kebanggaan tersendiri. Yayasan Tari Borneo Etnica kerap diundang ke acara di Jakarta, Bandung, hingga Bali. Untuk skala internasional, beberapa senior mereka pernah mengikuti festival lintas negara di Nunukan yang mempertemukan seniman dari Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Briza menilai keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi peluang besar bagi penari Kaltim. “Dulu cita-citanya jadi penari Istana Negara di Jakarta. Dengan adanya IKN, peluang terbuka lebar untuk tampil di Istana Nusantara,” katanya. Ia bahkan pernah berkesempatan menari di acara kenegaraan yang dihadiri Presiden dan para menteri sebelum IKN diresmikan.

Soal penghargaan, Briza mengaku pernah menerima bayaran hingga Rp2 juta untuk satu kali pentas berdurasi singkat. Namun ia menegaskan, kepuasan bukan terletak pada materi semata. “Dulu walau dibayar dengan nasi kotak pun kami tetap menari. Yang penting niat melestarikan budaya tetap jalan,” ujarnya.

Sejak taman kanak-kanak, Briza sudah menggeluti dunia tari. Kini, selain aktif menari, ia juga tercatat sebagai mahasiswi S1 Ilmu Hukum Universitas Terbuka. Sebagai Putri Tari Advokasi Indonesia 2023, Briza berharap semakin banyak generasi muda yang bangga menekuni seni tradisi Kaltim, sekaligus mengangkatnya ke panggung nasional dan internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....