Mengenal Pamali Masyarakat Sunda

  • 26 Apr 2025 15:54 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Masyarakat Sunda di Jawa Barat hingga kini masih memegang teguh berbagai tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun, salah satunya adalah pamali. Istilah "pamali" merujuk pada larangan atau pantangan yang berasal dari kebiasaan sehari-hari. Kepercayaan ini diyakini sebagai bentuk peringatan terhadap hal-hal yang dianggap bisa mendatangkan kesialan atau akibat buruk jika dilanggar.

Secara historis, pamali bukan sekadar mitos atau dongeng rakyat. Ia merupakan bagian dari sistem nilai masyarakat yang berfungsi sebagai nasihat hidup, terutama dalam menjaga etika, norma, dan sopan santun. Biasanya, pamali diwariskan secara lisan oleh para orang tua atau leluhur kepada anak-cucu mereka sebagai pengingat agar tidak menyimpang dari nilai-nilai kearifan lokal.

“Di setiap daerah pasti punya tradisinya masing-masing, termasuk pamali atau pantangan. Tidak terkecuali di tanah Sunda,” ujar Teh Iis saat mengisi program Pesona Antar Komunitas Sunda di Pro 4 RRI Samarinda, Selasa (22/4/25).

Ia menuturkan pengalamannya ketika pertama kali tinggal di Kalimantan, di mana ada istilah kepuhunan. Ketika ditawari makanan, seseorang sebaiknya menyantapnya, atau paling tidak menyentuhnya. Jika tidak, bisa dianggap tidak sopan dan bisa membawa sial. Hal serupa juga ada di Sunda dalam bentuk pamali.

Salah satu contoh pamali yang terkenal adalah "Ulah diuk dilawang panto, bisi nongtot jodoh" yang berarti "Jangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh." Meski terdengar sederhana, larangan ini sarat makna. Menurut Teh Iis, inti dari pantangan tersebut adalah untuk mengajarkan etika. Duduk di depan pintu bisa menghalangi jalan orang, sehingga dianggap tidak sopan dalam lingkungan sosial.

Contoh lain yang ia sebutkan adalah "Ulah dahar bari ditanggeuy, bisi Dewi Padi ngambek" artinya, "Jangan makan sambil memegang piring di tangan, nanti Dewi Padi marah." Secara budaya, larangan ini mengajarkan cara makan yang sopan duduk dengan tenang, piring diletakkan, dan tidak tergesa-gesa. Selain dari aspek kesopanan, ada juga sisi keamanan memegang piring saat makan berisiko membuat piring jatuh dan isinya tumpah.

Pamali lainnya adalah "Ulah dahar bari sare, bisi gede hulu" atau "Jangan makan sambil tidur-tiduran, nanti kepalanya besar." Walau terdengar lucu, larangan ini menyimpan pesan penting, makan dalam posisi tidak baik bisa membahayakan kesehatan, seperti risiko tersedak.

Ada juga "Ulah ngadiukan bantal, bisi bisul", yang berarti "Jangan duduki bantal, nanti bisulan." Di balik larangan ini, tersimpan nilai tentang penghormatan terhadap kepala. Dalam budaya Sunda, kepala adalah bagian tubuh paling dihormati, sehingga bantal yang menjadi alas kepala tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi diduduki.

Sementara itu, "Ulah sare bari disimut ku samak, bisi nitahkeun maot" atau "Jangan tidur sambil diselimuti tikar, nanti seperti menyuruh meninggal," berasal dari kebiasaan lama masyarakat Sunda yang menggunakan tikar untuk membungkus jenazah. Pantangan ini memiliki sisi kesehatan juga, karena tikar adalah alas yang sering diinjak dan bisa kotor.

Melalui berbagai larangan ini, masyarakat Sunda sebenarnya sedang menanamkan nilai-nilai luhur tentang kebersihan, kesopanan, keselamatan, dan kehormatan. Pamali bukan semata-mata soal takhayul, melainkan sarana untuk mendidik dan menjaga harmoni dalam kehidupan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....