Bertahan dengan Satu Tangan, Ramdan Merakit Harapan dari Teluk Sumbang

  • 31 Jul 2026 15:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Teluk Sumbang - Di sebuah bengkel kayu sederhana di Desa Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, suara palu dan gergaji terus terdengar memecah keheningan pesisir. Di balik suara itu, tampak seorang pria tekun menyusun papan demi papan kayu menjadi sebuah perahu.

Pria itu adalah Ramdan (50). Meski hanya memiliki satu tangan, ia tetap bertahan sebagai pembuat perahu demi menghidupi keluarganya.

Setiap hari, Ramdan mengerjakan proses pembuatan perahu secara perlahan. Pekerjaan yang umumnya dilakukan menggunakan dua tangan harus ia selesaikan sendiri dengan segala keterbatasan fisik yang dimilikinya.

"Saya mulai membuat perahu sekitar tahun 2019. Awalnya untuk kebutuhan sendiri, kemudian ada yang memesan, jadi saya menerima pesanan juga. Walaupun tangan saya tinggal satu, saya tetap bekerja karena keluarga harus tetap hidup," ujar Ramdan pada Jumat 31 Juli 2026.

Baginya, membuat perahu bukan sekadar pekerjaan, melainkan satu-satunya keterampilan yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Satu unit perahu bahkan bisa dikerjakan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung ukuran dan kondisi cuaca.

Namun perjuangan Ramdan tidak hanya soal keterbatasan fisik.

Sebagai warga Desa Teluk Sumbang, ia masih harus menghadapi minimnya infrastruktur dasar. Hingga kini, wilayah tersebut belum sepenuhnya teraliri listrik PLN sehingga aktivitas masyarakat, termasuk proses pembuatan perahu, masih bergantung pada genset berbahan bakar solar.

Padahal, sejumlah peralatan pertukangan seperti mesin pemotong dan mesin serut membutuhkan pasokan listrik agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat.

"Kalau mau pakai mesin harus hidupkan genset. Solar sekarang mahal. Kalau tidak ada solar, pekerjaan terpaksa berhenti dulu. Akibatnya membuat perahu jadi lebih lama selesai," katanya.

Biaya operasional yang tinggi membuat keuntungan yang diperoleh semakin terbatas. Di sisi lain, pesanan tidak selalu datang secara rutin sehingga Ramdan harus pandai mengatur pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Meski tergabung sebagai pelaku UMKM pembuat perahu di pesisir Berau, Ramdan mengaku tetap memilih bertahan. Ia berharap usahanya terus berjalan agar dapat menghidupi keluarga.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, secercah harapan mulai muncul. Kepala Desa Teluk Sumbang, Badri, mengatakan pemerintah desa telah menerima kabar baik terkait rencana masuknya jaringan listrik PLN ke wilayah tersebut.

"Selama ini masyarakat masih mengandalkan genset sehingga biaya operasional cukup besar, terutama bagi pelaku usaha seperti pembuat perahu. Kami mendapat kabar baik dari PLN. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama lagi listrik bisa segera tersambung ke Teluk Sumbang," ujar Badri.

Menurutnya, kehadiran listrik PLN akan memberikan dampak besar bagi masyarakat. Selain meningkatkan kualitas hidup warga, akses listrik diharapkan mampu mendorong produktivitas pelaku UMKM, menekan biaya produksi, dan memperkuat perekonomian desa.

Bagi Ramdan, kabar tersebut menjadi harapan baru. Ia membayangkan pekerjaannya akan lebih ringan jika tak lagi bergantung pada genset dan mahalnya harga solar.

"Saya berharap kalau listrik sudah masuk, kerja jadi lebih mudah. Tidak perlu lagi terlalu bergantung sama genset. Mudah-mudahan usaha kami juga bisa lebih maju," tuturnya.

Di pesisir Teluk Sumbang, Ramdan terus memahat kayu dengan satu tangan yang dimilikinya. Setiap papan yang disusun menjadi perahu bukan hanya menjadi alat transportasi bagi para nelayan, tetapi juga menjadi simbol keteguhan seorang ayah yang menolak menyerah pada keterbatasan.

Sementara masyarakat desa kini menaruh harapan pada satu hal yang sederhana, namun sangat berarti: hadirnya aliran listrik yang diyakini dapat membuka peluang baru bagi kehidupan dan perekonomian warga pesisir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....